Friday, June 05, 2020

BELAJAR MENCINTAI INDONESIA ALA GUS MUS

Ngaji Pasanan 1441 H

Ditengah pandemi covid-19, masih saja ada segelintir manusia Indonesia yang selalu mencela apa yang terjadi di Indonesia. Apapun kebijakan yang diambil pemerintah selalu dicela, seolah tidak ada benarnya. Padahal ditengah pandemi sekarang ini, yang dibutuhkan adalah solidaritas. Saling bantu membantu dengan apa yang kita bisa. Jika tidak dengan harta, dengan tenaga. Jika tidak dengan tenaga, dengan jari - jari untuk senantiasa bijak bersosial media.
Sebagai manusia Indonesia sudah seharusnya kita banyak bersyukur.
Banyak sekali alasan untuk mencintai Indonesia. Paling tidak, kita bersyukur bahwa kita masih mempunyai negara. Betapa banyak manusia di belahan bumi lain yang tidak bisa merasa bangga karena memiliki Bangsa sendiri.
Teman saya, seorang Palestina, beliau lahir dan besar di Qatar pernah ngomong ke saya, "betapa beruntungnya kamu punya negara dan bangsa sendiri".
Mbah Kyai Mustofa Bisri dalam beberapa kali tausiyahnya selalu mengingatkan kita semua tentang anugerah besar dari Allah karena kita telah diciptakan menjadi manusia Indonesia.
Dalam momen ramadhan lalu, beliau memberikan pengajian tentang kitab Akhlaq al-Muslim 'Alaaqatuhu bi al-Mujtama'.
Dalam episode ketujuh, beliau berkisah, betapa banyak orang yang kepingin menjadi orang Indonesia. Jika tidak percaya, silahkan survei saja, lanjut beliau. Berapa banyak orang - orang asing yang tinggal di Indonesia. Belum lagi yang kepingin tapi kondisinya tidak memungkinkan, banyak sekali.
Mbah Kakung, beliau biasa menyebut dirinya, melanjutkan kisahnya, bahwa beliau sudah berkeliling ke berbagai negara. Beliau pernah ke beberapa negara Eropa, mulai dari Jerman hingga Spanyol. Sudah pula ke Amerika, Jepang, Korea, dan Taiwan. Timur Tengah apa lagi. Mesir, Iraq, dan Suriah.
Setiap kali beliau singgah di negara lain, beliau selalu ingat Indonesia. Kenapa? Karena disana nggak enak kabeh (semua), kata beliau. Gus Mus selalu teringat enaknya di Indonesia.
Disana (Eropa) itu mempunyai empat musim. Yang enak cuma satu. Minimal ya dua lah, musim semi sama musim rontok. Musim dingin sama musim panas ini azab. Siksa!
Disini (Indonesia) yang kemarin panasnya begitu itu, paling 35 - 36 derajat (celcius). Beliau bercerita pernah merasakan panasnya Mesir hingga 50 derajat.
Bagi temen - temen yang belum merasakan ke Timur Tengah dan Mesir, bayangkan saja sendiri panasnya. Ya seperti kita kalau berada disamping kompor yang sedang menyala. Semua yang beliau pegang, panas semua. Saking panasnya, bahkan ketika beliau mau tidur, ranjangnya mesti diguyur air seember agar terasa dingin. Ya itu tadi sekelumit betapa nggak enaknya musim panas.
Nah, beliau lanjut berkisah tentang nggak enaknya musim dingin. Ketika beliau di Eropa pernah merasakan suhu lima derajat dibawah nol. Sementara di Indonesia, suhu 20 derajat (celcius) saja sudah terasa dingin sekali. Dengan suhu dibawah nol, beliau memakai baju rangkap empat pun hawa dingin masih tembus ke badan. Untungnya di masing - masing rumah ada mesin pemanas.
Sementara di Indonesia (ketika musim pandemi), sampai disuruh di rumah saja nggak terasa. Ingin keluar (rumah) terus, karena (iklim) enak sekali.
Nah sekarang, cara mensyukuri nikmat bagaimana? Ya Menjaga Indonesia!
Seperti halnya menjaga ajaran kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dan ini adalah paling tinggi derajatnya, karena memang memerlukan kesadaran.
Beliau mengingatkan kita semua pentingnya kesadaran diri bahwa kita telah menerima anugerah besar menjadi manusia.
Meskipun anugerah Allah itu banyak sekali, tapi kadang - kadang kita tidak menyadari. Mungkin karena banyaknya itu. Karena banyaknya, justru kita tidak sadar. Termasuk mensyukuri nikmat (menjadi manusia Indonesia), itu nikmat dari Allah Ta'ala.
Masih banyak orang - orang yang nggak ngerti (betapa besarnya nikmat menjadi manusia Indonesia). Beliau melanjutkan, suruh saja (mereka yang tidak cinta Indonesia) piknik ke tempat - tempat lain. Suruh merasakan. Orang yang tidak syukur dengan Indonesia itu orang yang tidak pernah piknik. Pikniknya kurang jauh. Pikniknya jangan di Demak saja (contoh saja), supaya tahu dimana - mana.
Grand Syeikh Azhar, itu orang teralim di Mesir. Jadi di Azhar itu 'masyaikhul azhar'. Ini orang - orang top semua. Jangan tanya soal Qur'an, hafal semua bersama tafsirnya, jelas beliau. Kitab - kitab yang menjadi bagiannya, hafal semua. Sampai Kitab Al Umm nya Imam Syafi'i hafal, beliau mencontohkan.
Nah, Kepala nya Masyaikhul Azhar itu, Syaikhul Azhar. Ketika Pemerintah akan menentukan Menteri Agama, Qodhi, dan lain - lain, senantiasa berkomunikasi dengan Syaikhul Azhar.
Dulu, ada Syeikhul Azhar yang terkenal, antara lain namanya Syeikh Syaltut. Syeikh Syaltut ini dikisahkan beliau pernah ke Indonesia. Dibawa ke Bogor. Dulu Bung Karno kalau punya tamu, tidak lupa dibawa ke Bogor. Diajak ke Kebun Raya Bogor.
Orang Mesir itu terkenal lebai. Lebai itu 'mubalaghoh' nya berlebih - lebihan. Mubalaghoh sendiri maknanya berlebih -lebihan. Nah ini lebihnya lebih kata Gus Mus. Kalau merayu orang sampai 'Lho ini kok ada rembulan jalan - jalan' (mungkin saking cantiknya), hehehe.
Meskipun sudah Syaikhul Azhar juga lebai. "Ini jannah ini, jangan - jangan orang Indonesia tidak kaget ketika masuk surga." Itu kan lebai (banget). Hadzihi qit'atun minal jannah (ini potongan surga).
Di Indonesia itu, kalau ada orang kelaparan itu saking bodohnya. Wong akar saja (singkong) bisa direbus jadi getuk. Gus Mus waktu itu di Mesir bersama kawan - kawan pernah menyewa lapangan sepakbola. Itu mahal sekali. Sewanya 500 an pound mesir, sementara beasiswa cuma 8 pound mesir. Beliau urunan untuk menyewa. Itu saja dipakai main bola seminggu sekali. Jum'at. Dan itu sering libur, sering nggak dipakai. Kenapa? karena rumputnya sedang disirami. Sementara di Indonesia, rumput nggak ditanam, tumbuhnya cepat sekali (nggak karu-karuan). Malah dibabadi (dipangkas).
Beliau memberikan contoh lainnya lagi. Ketika kalian suatu hari nanti ke Arafah, ada pohon - pohon banyak. Sampeyan tanya sama orang sana, mereka menjawab itu pohon Sukarno. Karena yang ngasih bibit Bung Karno. Di Mesir bisa ekspor mangga, itu peloknya (biji mangga) dari Bung Karno. Makanya tidak ada bahasa arabnya, mangga itu manggoo.
Waktu Gus Mus punya tamu - tamu arab, beliau nyuguhi (menyajikan) singkong rebus dan pisang rebus. Pisang sobo. "Hadza Muz" (ini pisang?). Pisang kok direbus. Karena di arab itu sering adanya pisang buah (bukan pisang yang biasa direbus).
Sebenarnya masih banyak lagi Gus Mus bercerita tentang beragam alasan untuk mencintai Indonesia. Tapi yang sangat penting bagi kita semua adalah teruslah mencintai Indonesia. Dengan apa saja yang kita bisa.
Kita harus menyadari bahwa rumah kita, keluarga kita, saudara kita, tetangga kita, KTP kita, passport kita, sekolah kita, semua ada di Indonesia. Bahkan ketika suatu hari nanti ajal menjemput kita, tentu kita ingin dikubur di tanah air tercinta, Indonesia.
Jika saat ini Anda masih menjadi Warga Negara Indonesia tetapi tidak mencintai Indonesia, mungkin barangkali Anda perlu pindah kewarganegaraan.
Dukhan, 5 Juni 2020.
Ngaji Online sareng Mbah Kakung.

No comments:

Post a Comment