Friday, April 26, 2019

Kita, Indonesia


Semalam menjadi agenda rutin silaturahmi warga, yang dilanjutkan dengan pengajian. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak berpuluh tahun yang lalu. Mungkin sejak komunitas Indonesia di Dukhan eksis.

Tahun demi tahun, jumlah warga bertambah, namun di waktu yang lain jumlahnya juga berkurang. Bisa karena resign, retired, PHK, dan ada juga yang telah pergi mendahului kita. Memenuhi panggilan Allah Azza Wajala. 

Suasana semalam begitu indah. Acara bertempat di kediaman Pak Tri Novaldi. Muqoddimah disampaikan langsung oleh Ketua komunitas kita, Pak Raflin. 

Pak Ketua menyampaikan bahwa kita warga Indonesia di Qatar adalah warga pendatang. Kita sama-sama merantau. Jauh dari tanah air kita tercinta, Indonesia. Maka dari itu beliau mengingatkan kita semua untuk senantiasa menjaga kebersamaan. Menjaga persatuan dan kesatuan. Itu semua adalah untuk menjaga nama baik bangsa kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 




Jika terjadi perbedaan di masyarakat karena ini dan itu, adalah hal yang wajar. Karena kita tahu bahwa NKRI terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa dan agama. Yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Kita pun yang di Dukhan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Jumlah kita tak sampai 100 KK tapi kompleksitasnya sudah merepresentasikan Indonesia sesungguhnya. Indonesia yang berbhinneka. 

Kita tak selamanya ada disini, di Dukhan. Ada masanya kita akan kembali ke tanah air. Kita tidak pernah tahu apakah masih hidup atau tidak. Karena kita tahu bahwa setiap berjiwa pasti akan mati. 

Lantas ketika kita mati, apakah kita akan pulang sendiri? Tentu tidak! Kita tentu memerlukan bantuan orang lain. 





Komunitas Indonesia di Dukhan mempunyai pengalaman tentang itu. Bagaimana komunitas kita begitu kompak, bahu membahu membantu proses pengurusan jenazah Almarhum Pak Budi Setiawan, Pak John Tampubolon dan Pak Imanudin Sahara. Indah sekali. 

Dukhan, sebuah kota kecil di bagian barat Qatar. Jaraknya tak lagi dekat Bro, 100 Kilometer-an. 

Menurut Pak Ino yang tinggal di Depok dan sempat bekerja di beberapa negara lain menyampaikan bahwa Dukhan adalah tempat yang sangat nyaman. Dan semua ini harus kita syukuri bersama. Kita rawat bersama. 

Banyak ragam yang kita diskusikan semalam. Mengekspresikan isi hati. Tertawa bersama. Gembira bersama. Jikalau ada perbedaan pendapat soal pilpres dan pileg kemarin, yang sempat 'hangat' bahkan mungkin 'panas' di sosial media, Alhamdulillah semalam suasananya begitu adem. Memang dunia nyata itu jauh lebih indah dari dunia maya.

Begitu banyak manfaat yang bisa kita ambil dari adanya dunia maya, namun kita harus menyadari bahwa kita adalah makhluk dunia nyata. 

Semoga Allah senantiasa menjaga kebersamaan kita sebagai sesama Warga Negara Indonesia di Dukhan. 

Semoga kita menjadi manusia yang senantiasa bersyukur. Mensyukuri bermacam kenikmatan yang kita tak pernah sanggup untuk menghitungnya. 

Semoga kebersamaan kita di Dukhan akan terus terjaga, bukan komunitas lain yang menjaga kebersamaan dan kekompakan kita, kita lah yang harus dengan kesadaran diri bersama-sama menjaga kebersamaan ini. 

#HanyaCatatanKecil
Dukhan, 25 April 2019
@sugengbralink

No comments:

Post a Comment