Wednesday, November 03, 2010

INNA-Q Professional Meeting 2010





Aku Cinta Indonesia

Oleh Syaifoel Hardy

Semula saya putuskan tidak bakal menghadiri acara amat penting dalam kehidupan profesi saya di Qatar selama tiga tahun lebih ini, lantaran kondisi kesehatan badan yang kurang memungkinkan. Ya, sudah tiga hari terakhir ini agak terganggu. Ada rasa ‘bersalah’ jika tidak datang nanti. Begitu bisik hati ini. Makanya, dengan berbekal semangat, meski tidak seluruh acara bisa saya ikuti, meluncur juga tubuh ini ke program yang, jujur saja, sangat saya nanti-nantikan, di sebuah hotel di kota Doha.




Professional Meeting namanya. Sejatinya, acara ini dilatar-belakangi acara Musyawarah Cabang (Muscab) Indonesian National Nurses Association-Qatar (INNA-Q), dalam rangka peralihan kepemimpinan periode satu ke kedua, tahun 2010-2012. Agar tampak lebih dinamis, ‘judul’ nya kami ‘modifikasi’. Modifikasi judul ini ternyata membuat banyak hal berubah. Mulai dari susunan acara, undangan, pembicara, topik, tempat penyelenggaraan, hingga tentu saja biaya.

Saya datang terlambat. Maklum, sedianya memang tidak hadir. Lagi pula berangkatnya juga numpang mobil rekan kerja. Sekitar 45 menit sudah lewat ketika sampai di hotel. Yang penting, acara inti tidak ketinggalan. Begitu pikiran saya. Ringkasnya, saya bisa mengikuti sebagian besar acara dengan serius.

Tulisan ini merupakan bagian dari refleksi diri terhadap performance of the Indonesian Nurses in Qatar.

Saya kagum dengan ulasan lengkap yang disampaikan oleh Ms. Martinez, asal Filipina, Pembicara Tamu kita pagi tadi yang menyampaikan: Challenges of Nurses in the World of Healthcare Services. Kupasannya menyangkut peran nurses dalam skala internasional, tentangan serta rekomendasi. Apa yang beliau sampaikan intinya memberikan dorongan semangat kepada nursing professional untuk tetap maju meniti karir ini, sebagai sebuah pilihan yang tepat. Bukannya penyesalan.

Lantas mengapa saya kaitkan hal ini dengan Aku Cinta Indonesia? Banyak orang kita yang memandang nurses dengan sebelah mata. Kita yang sedang bekerja di luar negeri, dicap hanya sebagai pekerja yang kurang cinta Tanah Air. Hanya mencari dollar, memburu Dirham atau Riyal.



Cinta artinya sangat luas. Begitu luasnya arti cinta, hingga membuat orang Asia umumnya, segan jika terus terang harus mengatakan dengan lisan. Utamanya lewat tatap muka. Jangankan dengan orang lain. Orangtua ke anaknya saja, di negeri kita, jarang kita mendengar kata-kata ini. Barangkali alasan yang paling kuat mengapa hal ini tidak terjadi adalah karena rasa ‘tabu’. Tabu mengatakan ‘aku cinta kamu’. Kecuali dalam film-film nasional kita, yang diobral kata-kata ini semurah-murahnya, sehingga terkesan tidak lagi ada harganya.

Mengemas acara Professional Meeting di antara profesi kami di Qatar dengan melibatkan orang-orang dari bangsa-bangsa lain bukanlah persoalan mudah. Apalagi sepele. Sementara orang berpikir bahwa membuat acara seperti ini yang penting ada duit, semua bisa terwujud. Tidak saya pungkiri, benar! Tapi banyak hal-hal yang tidak bisa dibayar dengan uang: rapat, persetujuan anggota atau team, pembentukan panitia serta kesuka-relaan mereka dalam kerja, dan kesungguhan dalam pencapaian tujuan. Singkatnya: team work, di mana semua ini harus dibayar mahal. Sangat mahal!

Sekitar tiga bulan sebelum acara dilaksanakan, komunikasi lewat email, telefon dan berbagai repat kecil sudah dilakukan. Tarik-ulur tentu terjadi. Setuju dan tidak setuju bukan hanya monopoli anggota DPR. Masing-masing memiliki argument tersendiri. Tapi komitmen anggota inti sama: sepanjang yang bakal dilaksanakan nanti itu baik untuk anggota dan mendongkrak reputasi profesi, jalan terus. Saya membaca, dukungan yang sangat sedikit sekali dari keseluruhan anggota. Macam-macam issue dan alasan yang masuk ke telinga ini.

Mundur? Tidak juga. Tim dibentuk. Yang hadir waktu rapat? Hanya 5 orang. Jalan! Sekali lagi, jalan! “Hebat!” Begitu gumam saya dalam hati. Jangan pernah mundur hanya karena bisikan-bisikan, betapapun jumlahnya banyak. Selagi langkah ini berbuah positif, tetap optimis. Keringat, jangan diukur lelahnya, utamanya yang dialami oleh panitia inti. Kekuatiran saya sempat berlapis-lapis, membayang-bayangi optimisem dalam merealisaikan rencana akbar ini.

Rapat makin intensif dilaksanakan, dihadiri oleh hanya orang itu-itu saja. Dari dulu. Sebenarnya ada rasa kesal juga. Tapi sampai kapan? Tidak menyelesaikan masalah. Kami bangkit. Agenda digelar dan jalan terus. Biarpun 4 orang, tapi jika kuat pilarnya, rumah akan bisa berdiri, ketimbang dua puluh tapi rapuh. Mulai dari kegiatan A hingga Z, diidentifikasi. Ini terjadi hingga satu hari sebelum Hari H.

Undangan disebar, Gladi resik digelar. Ah, lega rasanya. Semua anggota panitia wajib mengenakan pakaian batik. Sebuah ekspresi kebanggaan atas bangsa ini, yang bisa dilihat dengan kasat mata. Dibumbuhi dengan tari-tarian tradisional, pencak silat, lagu-lagu, pembagian hadiah, pidato, komentar, pertanyaan serta makanan ala Indonesia. Semuanya tersaji dalam kemasan cantik sebagai hasil kerja sama Indonesian Nurses.

Sekitar 100 orang hadir, tidak terkecuali Kedubes RI di Doha. Barangkali terhitung sedikit. Namun lewat yang seratus ini, nama baik kita mulai direnda, bisa membahana, menembus ratusan bahkan bisa ribuan lainnya tentang kiprah professional kita di luar negeri. Apa lagi yang bisa dibanggakan jika bukan kemampuan intelektual profesi saat harus bergaul dalam forum multinasional seperti ini?



Untuk menyebut Indonesia kaya raya, saya tidak mampu karena pendapatan perkapita kita di bawah banyak negara. Tidak usah dibandingkan dengan Qatar, negara kecil yang kaya ini. Boss saya yang orang asli Qatar, sempat memuji penyelenggaraan acara ini, meski beliau berhalangan datang. Demikian pula rekan kerja seorang Qatari lady. Apalagi jika saya harus bandingkan acara-acara seperti ini dengan kiprah nurses dari negara-negara lain, tidak terkecuali India serta Filipina. Saya yakin this is the first of such program. Kita mampu bersaing!

Mewakili rekan-rekan Indonesian Nurses yang tinggal dan bekerja di Qatar, khususnya Panitia Penyelenggara, nun jauh di Timur Tengah sana, tidaklah berlebih, sekiranya kami, di tengah derita sebagian rakyat Indonesia yang tertimpa musibah Merapi dan Tsunami, kami katakan bahwa inilah bagian dari ekspresi cinta kami selain sebagai penyumbang devisa negara terhadap Indonesia. Bahwa ‘Kami Cinta Indonesia’, bukan bualan. Bahwa kami bukan hanya mencari uang harta, tapi turut pula berjuang menebar harum namamu di teras Internasional. Setidaknya dalam ruang profesi kami: nursing!



Doha, 30 October 2010

Shardy2@hotmail.com





Friday, October 29, 2010

SHOLAT DHUHA YUK...

Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).




Tuesday, August 24, 2010

Ramadhan ketiga di Negeri Oryx

Oleh Sugeng Riyadi Bralink

Hari ini memasuki hari ke-14 di bulan suci ramadhan 1431H. Alhamdulillah karena masih diberi kesempatan menikmati sepertiga kedua bulan ramadhan yang penuh maghfirah. Hari-hari yang menawarkan ampunan bagi siapa saja yang ikhlas beribadah dibulan ini. Ikhlas tanpa mengahrap pujian sesama namun hanya berharap keridhaan Ilahi Rabbi.



Awal ramadhan kali ini bertepatan dengan 11 Agustus 2010M. Satu masa yang bertepatan dengan musim panas. Dalam istilah barat-nya disebut Summer.
Masa-masa yang membutuhkan perjuangan yang lebih untuk bisa melalui ramadhan kali dengan sempurna. Bagi sebagian kami yang bekerja pada sebuah perusahaan minyak bukanlah sebuah hambatan yang berarti. Karena kami lebih banyak bekerja didalam ruangan yang notabene bermesin penyejuk ruangan atau Air Conditioner.
Namun hal ini berbeda cerita dengan para pekerja kontraktor yang banyak dari mereka bekerja di area konstruksi jalan, taman dan perumahan karyawan.

Pagi buta sehabis sholat subuh sekira jam empat, mereka para karyawan kontraktor harus segera berkemas menunggu bis karyawan. Sebuah bis keluaran India bermerk TATA setia menemani awal hari mereka. Menembus fajar yang baru menyingsing menelusuri jalanan aspal menuju tempat mereka bekerja. Terkadang pagi hari sudah diselimuti kabut hangat nan lembab. Dalam bahasa baratnya mereka sebut suasana yang Humid. Satu kondisi dimana kelembaban udara sangat tinggi yang bisa mencapai 80 persen. Bisa digambarkan yang pernah saya alami sendiri. Berjalan saja sekitar 20 meter saja keringat sudah bercucuran. Apalagi kalau para kontraktor ini bekerja berat membuat galian, mengangkat material ataupun pekerjaan lainnya yang sungguh sangat bagi mereka.

Bagi mereka yang non-muslim bukanlah masalah. Mereka masih bisa terus mengganti suplai cairan tubuhnya yang hilang terperas oleh panasnya musim summer atau lembabnya udara yang sangat. Namun bagi sebagian mereka yang kebanyakan dari pakistan adalah penganut muslim yang taat. Meraka harus berjuang extra agar puasa mereka bisa berjalan sampai saat berbuka.

Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita yang bekerja di dalam ruangan yang berpendingin. Menjadikan hal ini sebagai satu hal untuk membangkitkan kepedulian kita kepada kaum yang kurang mampu atau kaum yang lebih susah dari kita sekarang. Tentu nasib mereka masih lebih baik dibanding dengan kawan-kawan mereka yang masih menganggur di negara mereka atau di negara-negara lain yang bernasib sama. Negara yang masih berkembang, berjuang mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan.

Beralih dari keprihatinan saudara-saudara kita yang bekerja dibawah teriknya mentari gulf country. Ada beberapa kisah-kisah ramadhan di qatar yang mungkin bisa dijadikan contoh oleh negara lain yang belum menerapkannya. Pertama adalah mengenai jam kerja. Sudah menjadi aturan pemerintah negeri yang kaya minyak dan gas ini, bahwa setiap memasuki bulan ramadhan maka jam kerja para karyawan hanyalah 5 jam per hari, lebih dari itu maka akan dibayar lembur atau overtime. Ya mungkin hal ini nantinya bisa menggantikan THR seperti layaknya kita dapat di Indonesia.

Kisah lainnya yaitu betapa negara Qatar ini menghormati bulan ramadhan. Dibawah komando Awqaf (departemen agama-nya Qatar), menjadi aturan yang lazim bahwa sehabis azan maghrib akan diberikan jeda waktu sekira 15 menit untuk berbuka puasa sebelum nantinya didirikan sholat berjamaah di masjid-masjid seluruh qatar. Dari kota sampai pelosok negeri ini. Hal ini memberikan keleluasan umat islam yang berpuasa menikmati menu berbuka puasa.

Berbicara mengenai berbuka puasa di qatar ini. Saya yang tinggal di komplek perumahan karyawan perusahaan,mempunyai kebiasaan berbuka puasa bersama di beranda masjid. Menu buka puasa-pun sesuai apa yang disunnahkan Rasulullah SAW yaitu kurma. Atas kerelaan dari saudara-saudara kita sesama muslim di Dukhan (nama tempat saya tinggal, ada korma, air mineral, goreng2an (terong berbungkus terigu, wortel berbungkus terigu) irisan buah semangka atau melon, soup ala india, agar-agar ala indonesia, dan beberapa makanan ringan atau pembuka lainnya. Beberapa menit sebelum azan maghrib ada seorang berkebangsaan srilanka rela menyiapkan semuanya.

Digelarnya plastik panjang diatas karpet masjid kemudian disiapkan menu berbuka tadi. Sesaat kemudian banyak kulihat jamaah yang akan berbuka puasa bersama sebagian besar Indonesia. Kemudian kami duduk mengelilingi menu yang sudah disiapkan ini berdampingan dengan jamaah dari negara lain seperti oman, india, mesir, sudan, nigeria dan lainnya. Sungguh serasa nikmat berpuasa di negeri muslim ini.

Masih menyambung dengan kebiasaan berbuka puasa bersama selama ramadhan. Setiap tahunnya dari pihak pemerintah juga akan mendirikan tenda-tenda buka puasa bersama dibeberapa tempat diseleuruh negeri. Tenda-tenda ini dibeut dengan Tenda Ifthar and Lesson. Walaupun tenda namun dilengkapi dengan mesin pendingin ruangan. Sehingga memberikan kenyamanan bagi jamaah yang berbuka. Seperti tahun ini tepat tanggal 20 Agustus diadakan buka bersama komunitas Indonesia dan Srilanka di AL Ahli sports Hall di Doha. Acara ini diprakarsai oleh Syeikh Thani Foundation. Sebagai satu ajang mempererat tali silaturahmi antara pemerintah dan warganya. Dan demi menggelorakan syiar islam.

Disisi lain tentang penentuan awal ramadhan. Kalau di Indonesia, awal ramadhan akan diumumkan oleh Departemen Agama RI dan disiarkan melalui televisi atau media elektronik lainnya beberapa saat setelah dilakukan sidang Itsbat. Kalau di negeri Oryx ini, dari Awqaf akan menyampaikan pesan langsung kepada para Imam Masjid seluruh Qatar melalui SMS beberapa saat setelah sholat Isya. Kalau memang esok hari-nya awal puasa, maka diwaktu ba'da sholat isya akan ada pesan singkat dari Awqaf yang isinya diterjemahkan kurang lebih demikian. Marhaban ya ramadhan.Alhamdulilah kita sudah memasuki bulan ramadhan. Bulan yang mulia dan bulan yang barokah. Maka kita akan mulai tarawih malam ini. Kemudian sang Imam akan menyampaikan pesan selamat kepada para jamaah karena telah memasuki bulan suci ini.Ramadhan kareem, Ramadhan Mubarak.

Hal lainnya yang menjadi spesial seputar ramadhan di qatar adalah mengenai perubahan aktifitas sehari-hari. Hari-hari diluar bulan ramadhan menjadi suatu yang biasa ketika siang menjadi ramai ketimbang malam hari. Namun ketika ramadhan datang, maka siang hari di negeri ini menjadi tidak begitu ramai atau boleh dibilang sepi. Kebanyakan kita disini akan banyak keluar sehabis berbuka hingga dini hari. Boleh dibilang siang jadi malam dan malam pun jadi siang.Mall-mall pun buka sampai jam 2 dini hari. Kendaraan berseliweran di jalanan khusunya memasuki waktu ba'da shalat tarawih. Suasana lalu lintas menjadi sangat padat. Terutama di pusat-pusat perbelanjaan.

Demikian sedikit kisah ramadhan di qatar. Semoga memberikan inspirasi ramadhan. Menjadikan diri kita semakin bertaqwa. Semakin mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya. Semoga pula kita masih dipertemukan dengan ramadhan tahun depan.
Sekali lagi ramadhan kareem ramadhan mubarak.Kullu wantum bikhoir.





Saturday, July 10, 2010

Tangisan terakhir

Oleh Asep Hermawan Sanudin


Kedatangan Satria di kampung kelahirannya jam tiga dini hari disambut nenek dan kakek yang sudah renta. Tampak wajah kedua manula itu berseri-seri menyambut kedatangan cucunya dari tanah rantau, yang sudah lama tidak bersua. Satria ditemani istri tercintanya masuk ke rumah sederhana itu. Satria mencium tangan kakek dan nenek yang kulitnya keriput telah dimakan usia.



Esoknya, nyanyian burung di pohon belimbing seolah menyambut kebahagiaan keluarga kakek Hadma. Suara ramai orang di kala pagi menyibukan kegiatan mereka ke pasar dan ke sawah. Tatkala kedamaian di sebuah desa sederhana penuh dengan kehangatan orang-orang yang saling menyapa.

Pagi yang cerah itu, Satria disuguhi makanan kesukaan pisang goreng. Sembari bercerita ria tentang pengalaman di perantauan, dia dikelilingi saudara sekitarnya. Tak ketinggalan, kakek Hadma dan nenek Minah pun ikut nimbrung mendengarkan. Tampak sekali kebahagiaan di mata kedua orang itu. Mereka tak sia-sia membesarkan Satria dan mendidiknya. Kini, mereka merasa bangga melihat kesuksesan cucunya.

Waktu pun berjalan cepat. Tak bisa lama-lama lagi di kampung tercinta, karena istri Satria juga perlu diantar ke kota kelahirannya yang berjarak kurang lebih tiga jam dari kampung itu. Setelah berpamitan kepada keluarga, Satria beserta istri pun pergi.

Kakek dan nenek itu melepas kepergian cucunya yang baru saja datang.
‘’Masih kangen rasanya sama cucuku’’ ujar nenek Minah.
‘’Nggak apa-apa, Satria pasti ke sini lagi’’ tukas kakek Hadma.
*****

Satria kecil diasuh dan dibesarkan nenek Minah beserta kakek Hadma. Kedua pasangan itu mempunyai dua anak perempuan. Esih dan Elis. Mereka mendambakan seorang anak laki-laki tetapi tidak juga dikaruniai. Satria terlahir dari Esih. Ketika masih bayi sekitar tujuh puluh limar hari, Satria tidak mau menyusu dan terus menangis. Tapi, kalau digendong dan dininak bobokan nenek Minah, Satria merasa nyaman. Akhirnya, Satria kecil diboyong ke kampung.

Meski statusnya hanya sebagai cucu, nenek Minah menyayangi Satria melebihi kasih sayang kepada anak-anaknya. Tak jarang jika ditanya orang, sering dibilang Satria anak bungsunya. Tak heran jika dia diperlakukan sebagai anak emas.
Satria memang merasakan kasih sayang nenek Minah dan kakek Hadma sangat spesial dibanding dengan cucu-cucu yang lainnya. Pernah nenek Minah bilang bahwa Satria itu bak anaknya sendiri, hanya tidak keluar dari rahimnya.

Saking sayangnya, rumah dan sebidang tanah yang mereka tinggali begitu saja dihibahkan kepada Satria yang kini telah dewasa. Tapi, sayangnya ketika ikrar pemberian tanah dan rumah itu tidak melibatkan Elis.

Mendengar kabar bahwa rumah telah diberikan cuma-cuma kepada Satria, Elis merasa iri. Kenapa mewariskan harta bukan langsung kepada anaknya, malahan ke cucu. Ini yang menyulut kemarahan bibi Satria. Pernah suatu hari Elis beserta Dadang suaminya memarahi nenek Minah dan kakek Hadma atas perkara itu. Dengan tenang kedua orang tua itu menjawab,

‘’Ini kan rumah dan tanahku, selama aku hidup terserah mau dikasihkan kepada siapapun. Tak ada orang yang bisa menghalangi keputusanku. Bukankah sawah dan kebunku sudah kujual demi menebus utang-utangmu ke rentenir dulu? ‘’ tandas kakek Hadma.

‘’Lagipula, rumah ini tidak semua diberikan ke Satria. Papilyun kecil ini buatmu’’ tambah nenek Minah.
Dadang, suami Elis menimpali perkataan mertuanya.

‘’Kalau begitu caranya, cucumu yang lain pun berhak mendapatkan warisan. Bukankah warisan itu harus diberikan kepada yang haknya? Sebelum ke cucu, harus ke anak dulu! Itu sepatutnya!’’ hentaknya sambil bersungut-sungut.

‘’Ini bukan warisan, ini memberi seperti hadiah. Apa salahku memberikan harta terhadap cucu?’’ kakek Hadma balik berargumen.
Tidak puas menerima keputusan yang dirasa tidak adil itu, Elis langsung hengkang beserta suaminya.

Setelah tiga hari kepergian Satria, tiba-tiba nenek Minah jatuh pingsan. Semua keluarga dan tetangga panik. Seorang petugas kesehatan didatangkan dan dinyatakan dia terkena tekanan darah tinggi dan perlu dirujuk ke Rumah Sakit Umum (RSU) terdekat. Untungnya ada tetangga yang memboyong nenek Minah menggunakan mobil sayur ke RSU. Jangan harap ada fasilitas ambulance gawat darurat yang gratis di pelosok desa.

Sesampai di RSU, kakek Hadma yang hanya berpendidikan SD itu mendatangi bagian Resepsionis Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dia mengacung-ngacungkan Kartu Tanda Pengenal kepada pihak RSU, supaya istrinya segera dirawat. Petugas acuh tak acuh, karena prinsip mereka ada uang anda dilayani. Setelah menunggu satu jam, salah satu cucunya yang bertempat tinggal dekat dengan RSU itu datang. Dengan membawa sejumlah uang, akhirnya nenek Minah bisa dirawat.

Satria mendapat kabar dari adiknya yang mengantar ke IGD bahwa neneknya masuk RSU. Dia segera berpamitan kepada mertua dengan maksud meluncur ke rumah sakit. Di perjalanan menuju RSU, tanpa terasa air mata Satria menetes teringat akan jasa-jasa nenek Minah terhadap dirinya.

Semasa enam tahun, Satria dikenal si pembuat onar karena tingkahnya yang dianggap kerap mengganggu teman sebaya. Suatu hari, Satria duduk di depan rumah melihat anak tetangga yang berjalan membawa sekantung minyak goreng.

‘’Apa itu di kantung plastik, Titin?’’ tanya Satria kecil mendekat.
‘’Minyak goreng, ang1’’ jawab anak kecil berusia lima tahun itu.
Tanpa basa basi lagi, sekantung minyak goreng ditepis Satria sehingga tumpah ke jalanan. Titin menangis dan mengadu ke orang tuanya. Satria menyeringai melihat kejadian tadi. Emaknya Titin langsung memaki-maki sambil menunjuk Satria kecil. Mulut Satria mencibir dan menunggingkan pantatnya seraya mengolok ibu yang sedang naik pitam itu.

Kejadian yang lain, Satria kecil suka main sumpit. Suatu sa’at dia melihat seekor burung bertengger di pohon mangga. Sumpit diarahkan ke burung tapi anak sumpitnya tidak mengena. Setelah putus asa mengejar burung yang telah terbang, Satria melirik seekor ayam dekat pohon pisang yang sedang mencari makan. Dia langsung memasukan anak sumpit dan meniupkannya tepat di tembolok ayam. Ayam langsung kesakitan dan Satria pun pergi. Sorenya, nenek Minah dan kakeh Hadma mendapat kiriman daging ayam dari tetangga.

‘’Kenapa ayamnya disembelih? Kena tetelo2?’’ tanya nenek Minah.
‘’Ayamnya ada yang nyumpit orang, untung masih kelihatan sekarat jadi bisa disembelih’’ ujar tetangga tadi.

Suatu hari, Satria bermain korek api milik kakek Hadma. Entah bagaimana pikirannya, dia langsung menyulut kasur milik nenek Minah di ruangan tengah rumah. Setelah menyulutnya, Satria dengan wajah polos memberitahu kakek Hadma yang sedang berada di belakang rumah. Kasurnya dibakar. Dengan tergesa-gesa kakek Hadma dan nenek Minah langsung mengambil air memadamkan kasur yang sedang dilahap api.
Banyak sekali ulah Satria kecil yang dianggap menjengkelkan para tetangga. Walaupun begitu, nenek Minah selalu mengatakan Satria anak yang baik. Dia sering membelikan buku merek Leces dan spidol supaya Satria betah tinggal di rumah. Berbekal buku Leces, Satria sering menggambar. Tidak hanya gemar menggambar di buku saja, tapi juga suka menggambar di dinding rumah.

Jika dibawa ke pasar, Satria akan jongkok dan mematung melihat mobil-mobilan di toko mainan. Dia tidak akan beranjak, kalau nenek Minah tidak membelikan mobil-mobilan yang ditunjuk Satria.

1ang: panggilan kakak laki-laki (abang) di suku Sunda.
2tetelo: nama penyakit ayam.


Semasa SD, Satria sering bermain gundu dan karet gelang. Adakalanya, kawan sebaya yang sering curang dan mengambil gundu milik Satria. Bocah kutil itu langsung terlibat adu mulut dan akhirnya beradu pukul. Di kampung perkelahian antar anak malah sering jadi tontonan. Satria memukul Eli yang berbadan bongsor. Karena perbedaan postur, akhirnya Satria telak dan bibirnya jontor kena hunjaman pukulan. Satria langsung menangis dan pulang. Terlihat nenek Minah yang sedang menyapu halaman belakang.

‘’Ada apa?’’ tanyanya.
‘’Kelahi sama si Eli, marahin dia mak!’’ Satria sambil menangis.
‘’Tak usah, nak. Ntar juga kamu baikan lagi. Kamu tak boleh dendam. Besok main lagi sama dia ya?’’ tandas nenek Minah.
Lamunan Satria buyar ketika kondektur bus itu berteriak,
‘’Persimpangan RSU...!!’’.

Satria langsung turun di perempatan RSU, dan naik ojek menuju ke IGD Rumah Sakit di daerah tersebut. Setelah tiba, dia langsung menemui nenek Minah yang kelihatan berbaring di tempat tidur ruangan gawat darurat.
Satria langsung mendekati sambil memegang tangan nenek Minah.

‘’Emak minta ma’af’’ suara nenek Minah pelan.
‘’Iya, sama-sama. Insya Allah emak akan sembuh seperti sediakala lagi’’ tukas Satria.

Kemudian salah seorang petugas memberitahu bahwa nenek Minah perlu dirawat inap. Kantung mata nenek Minah keriput dimakan usia. Rambutnya sudah memutih, dan gigi geliginya sudah tanggal. Tubuhnya hanya bisa terbaring lemas di bangsal penyakit syaraf. Dokter mendiagnosa nenek itu dengan stroke, salah satu penyakit terminal usia lanjut yang mematikan. Ketambah lagi otaknya mengalami perdarahan setelah dipastikan melalui CT-Scan.

Kehadiran Satria, kakek Hadma dan Esih anak perempuannya yang pertama menjadi pemacu nenek Minah untuk sembuh kembali. Rombongan keluarga dari istri Satria berdatangan membesuk keadaan nenek Minah yang kini masih terbaring lunglai. Dia hanya bisa makan dengan menggunakan sebuah selang yang dimasukan dari hidung. Oksigen dengan alat monitor masih terpasang.

Hampir setengah bulan dia dirawat. Elis tak kunjung datang menjenguk, karena alasan banyak urusan. Seolah, tak mau mengurusi ibu kandungnya. Setelah perawatan intensif, dokter spesialis penyakit syaraf memperbolehkan nenek Minah untuk pulang dengan rawat jalan.

Kondisi nenek Minah semakin hari semakin terpuruk. Rasa pusing dan perdarahan di otaknya membuat dia mempunyai gangguan berbicara dan tak bisa jalan. Dalam kurun satu tahun dia sering masuk dan keluar rumah sakit. Walaupun demikian, nenek Minah tetap semangat dan masih mendambakan cicit dari Satria.

Setahun perantauan, Satria pulang kampung. Terlihat nenek Minah semakin rapuh, jalannya digusur dan tubuhnya semakin kurus. Suaranya semakin dalam dan kurang jelas. Tapi, tatapan matanya masih bersinar tatkala melihat kedatangan cucunya.
Tak terasa, hampir sebulan Satria beserta istri menghabiskan waktu liburan di kampung yang bersahaja dan penuh kehangatan. Sa’atnya dia kembali lagi ke tempat perantauan. Ketika berpamitan, nenek Minah tak seperti biasanya memegang tangan Satria dengan erat dan menangis terisak-isak. Seorang tetangga, berusaha menghibur nenek Minah sambil merangkulnya.

‘’Satria akan kembali, tak usah bersedih’’ perempuan setengah baya itu berusaha untuk menghiburnya.

‘’Mak, Satria pamitan dulu ya. Insya Allah kita akan ketemu lagi. Semoga emak panjang umur’’ Satria sembari mencium tangan neneknya.
Nenek Minah beserta kakek Hadma melepas kepergian cucunya dengan air mata berlinang dan melambaikan tangan.

Satria sering memonitor kesehatan nenek Minah, dengan menanyakan kepada ibu dan adik-adiknya. Hari demi hari kondisi nenek Minah semakin terpuruk. Akhir-akhir ini dia sudah tidak bisa jalan. Suaranya sudah tidak jelas, akibat penyakit stroke yang dialami.

Anak perempuan yang pertamanya Esih, ibunya Satria sangat telaten merawat nenek Minah. Tiap hari memandikan, menyuapi makanan dan menungguinya di rumah.
‘’Aku ingin sembuh dan panjang umur supaya bisa melihat Satria membawa cicit kemari’’ ujarnya.

Di perantauan seusai shalat Jum’at, Satria pulang ke rumah. Didapati istrinya terdiam.

‘’Ada apa?’’ tanyanya.
‘’Mas jangan bersedih ya, ada berita duka dari kampung. Nenek Minah meninggal’’ jawab istri Satria.

‘’Inna lillahi wainna ilaihi roojiu’un’’ Satria berkaca-kaca.
Langsung seketika dia menghubungi keluarganya. Memang benar nenek Minah telah tiada. Segenap keluarga memohonkan ma’af atas segala kesalahannya, dan Satria pun mendo’akan supaya arwah almarhumah diampuni dan Satria berpesan supaya keluarga yang ditinggalkan supaya tabah. Terdengar suara kakek Hadma parau ditelepon. Dia terisak-isak berduka karena pasangan hidup telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Satria langsung teringat ketika dia berpamitan untuk pergi merantau, nenek Minah terisak-isak dan memegangi tangannya erat sekali tidak seperti biasa. Ternyata, itu adalah tangisan terakhir nenek Minah bertemu cucu tercintanya.

‘’Mas, sedih?’’ tanya istrinya.
‘’Iya, tapi kita harus menerima taqdir-Nya. Kita tidak akan tahu kapan dan di mana kita akan meninggal. ‘’ tukas Satria.
Ada suka dan ada duka. Ada yang pulang dan ada juga yang datang. Nenek Minah telah pulang selamanya, membawa duka yang mendalam di hati Satria karena tidak bisa menyaksikan detik-detik terakhir dan tidak bisa mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir nenek tercintanya. Nenek Minah tidak bisa menyaksikan cicit yang sedang dikandung istri Satria sekarang.

‘’Ya Allah, ampuni segala dosa nenek Minah binti Mustawi, terimalah segala amal kebajikannya, luaskan dan terangkanlah di alam kuburnya. Semoga dipertemukan di surga Firdaus nanti’’ Satria di dalam do’anya sambil meneteskan air mata.

TAMAT
Qatar, 10 Juli 2010.
uploaded on July, 2010 at 1800hrs waktu Dukhan



Tuesday, June 22, 2010

Mie Instan...

Oleh Imron Fauzy


Ketika menyebutkan kata mie Instan, saya selalu teringat pada sosok kawan baik saya, yang suka membawanya dan memasaknya waktu jaga bersama di Fire station Raslaffan, tidak peduli itu mau pagi, siang dan malam dan masakan mie nya itu memang beda, tidak sama dengan yang di rumah ( maksudnya lebih yummy dan lengkap plus dengan brambang goreng dan telur rebusnya), dan ketika saya tanyakan kenapa kok suka sekali makan mie instan, jawabannya sungguh di luar dugaan saya “sudah kebiasaan mas “sahutnya, tapi sebentar coretan ini bukan untuk mengomentari kebiasaan teman saya itu, malah tidak ada hubungannya, yang saya mau teruskan adalah kata instan, Kebiasaan dari kita mendapatkan sesuatu dengan cara instan.


Instan adalah versi Indonesia dari Instant (English) yang artinya seketika, segera (kamus electronic), sungguh di jaman super modern ini segala sesuatu di buat untuk memanjakan para penggunanya, segala sesuatu dibikin lebih mudah, contoh sederhana seperti bumbu instan, kopi instan, teh instan,santan instan, nasi instan, sambal instan dsb membuat kita dengan mudah dan cepat menikmatinya.

Tetapi tanpa kita sadari kebiasaan mendapatkan sesuatu tanpa harus keluar banyak keringat dan ruwet ini juga menjadi kebiasaan kita dalam menaungi kehidupan ini, seperti pasang togel, mencari harta karun, menggandakan uang – biasanya dengan jasa paranormal (biar dapat uang tanpa susah payah), istilah joki, jasa skripsi dll adalah cara cepat menyelesaikan tugas skripsi tanpa susah payah, ijazah palsu, duit palsu, gelar palsu dan lain lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu satu, bukan ngga ada, tapi ombyok’an.....(istilah jawa artinya banyak sekali) dan mirisnya kita melakukannya tanpa merasa berdosa, seperti hal yang umum dan normal saja....Tentu saja hal ini abnormal, tidak sesuai dengan system, berbahaya dan bisa menjadikan segala sesuatu amburadul, ambil contoh dokter gadungan, kira kira berapa pasien yang akan mati.......Selain itu hal ini juga mencederai rasa keadilan, lah kita belajar sampai beruban dan rambut habis kok situ udah pegang Ijazah, tidak adil dong, kita mencari uang di panas terik 40®C lah kok situ cuman 7D (duduk, dengar, diam dan dukun, duit, dugem dll)

Saya coba mencari referensi tentang gejala social ini karena factor apa, kenapa dan bagaimana solusinya, tapi mohon beribu maaf saya belum bias menemukannya, semoga sobat sekalian bisa membantu saya menambahi coretan menjelang tidur ini, tetapi kitab suci mengatakan “.....Alloh mencintai orang orang yang berbuat adil”.

Nah, menjelang dimulainya World Cup 2010 yang sekarang lagi panas panasnya dan seru serunya, tiba tiba Negeri Tanah Air Beta mencalonkan diri menjadi Calon tuan rumah 2022 dengan tema “Green world cup 2022” seperti yang diungkapkan ketua umum PSSI Nurdin Halid di Hotel Ritz Carlton Jakarta medio February 2010 (detik.com). Sebagai anak bangsa tentu saya sangat gembira dengan ide gila ini, tentu ini akan mengangkat nama bangsa ini dan tentu akan lebih dikenal kancah Internasional, sayangnya menurut pendapat orang awam seperti saya ini apakah para pejabat tidak malu menunjukkan infrastruktur jalan jalan di Indonesia yang pembangunan jalannya ada cuman di Jakarta, itupun tidak menjadi solusi macet bagi rakyat Jakarta, Apakah lebih penting membangun stadion bola dari pada sekolah rakyat......”Tapi mas, menurutku itu bukan level sampeyan, ngga nyandak lah” sahut teman saya sambil menyendok mienya, iya benar,gumamku, memang ternyata bukan level saya, ternyata alasan utama PSSI adalah agar team sepak bola Indonesia bisa ikut berlaga di world cup tanpa susah payah, sebagai host tentu tidak usah mandi keringat di penyisihan, langsung ikut final, nah itu instan namanya...., wah wah saya fikir hanya menimpa desa kecil di pinggiran Kabupaten Malang saja, tetapi udah sampai di Jakarta juga....



Suatu malam di tepi pembaringan. ......Zzzz Zzzzz Zzzzzz 21 Juni 2010



Tuesday, June 15, 2010

Nyepeda pagi di musim "panas" Piala Dunia 2010

Oleh Sugeng Riyadi Bralink

Malam ini kuterlelap dalam tidurku, selepas kemaren menjalani aktifitasku kerja di medical center. Memang sih jumlah pasien gak begitu banyak, namun ya lumayan juga mesti bolak balik dari ruang triage, emergency, nursing station, dressing room terkadang ke toilet menyalurkan "hasrat".



Sepulang kerja sore kemaren kusempatkan menyaksikan pertandingan laga piala dunia 2010 di afrika selatan. Satu chanel TV Aljazeera sport menyiarkan secara langsung pertandingan sore ini tepat jam 14.30 waktu dukhan. Laga seru antara Belanda dan Denmark yang akhirnya berakhir dengan kemenangan Belanda 2-0. Sorenya jam 17.00 dilanjut dengan laga lebih seru lagi karena menampilkan satu wakil asia yaitu Jepan melawan Kamerun, yang akhirnya dimenangkan oleh Jepang 1-0. Memang sih kalau mengingat jaman penjajahan dulu, si pemenang ini sama-sama mantan penjajah negeri kita Indonesia. Tapi ya udahlah, itu kan masa lalu.

Kemudian dilanjut laga ketiga yang berlangsung jam 21.30 waktu dukhan juga, masih di channel yang sama Aljazeera sport yang berada di channel 611 layanan baik dari tripel play Q-tel. Pertandingan malam ini adu seru antara Italia sang juara bertahan empat tahun lalu dengan Paraguay. Namun disayangkan karena sang juara bertahan hanya menahan imbang 1-1.

Alhamdulillah semalam ku masih sempat menikmati istirahatku yang nyaman. Namun masih disayangkan karena pagi ini yang kebetulan aku libur kerja, aku gak bisa pergi menunaikan panggilan Ilahi melaksanakan ibadah sholat subuh. Memang alarm handphoneku dah berbunyi, namun aku gak bisa melawan rasa malasku, ketika alarm berbunyi jam 03.15, apa yang kulakukan hanya mematikan alarm dan manrik selimutku kembali. Dingin euuyyyy...

Namun masih bersyukur aku, jam 04.30 aku bisa bangun dan melaksanakan sholat subuh. Setengah jam kemudian kuputuskan untuk nyepeda di pagi hari. Memang karena musim panas, suhu udara diluar juga sudah panas. Pagi ini kebetulan juga lumayan lembab. Biasa orang sini bilang humid. Rasanya seperti berada diruang tertutup. Berjalan sebentar saja, keringat sudah bercucuran.

Setelah kuisi angin ban belakang sepedaku, kemudian kukayuh sepedaku menuju jalur yang biasa kutempuh. Melewati kawasan bachelor blok-married blok dengan satu anak atau belum punya anak, kemudian melintasi roundabout yang tepat berada di depan gedung perkantoran qp dukhan. 200 meter kemudian kukayuh belok kanan sepedaku melintasi komplek senior staff tepatnya di al-etihad street. nampak beberapa pekerja konstruksi baru nyampe di tempat kerja.

Kukayuh terus sepedaku melintasi kawasan perumahan senior staff, disana-sini kontruski jalan, taman dan beberapa perapihan rumah. setengah jam berlalu akhirnya aku berada di belakang al-lewan restaurant. disitu kulihat ada dua orang pekerja kontraktor yang sedang duduk nyante dibawah pohon korma yang sedang berbuah.

Kusapa mereka dengan sapaan khas bahasa india "kya sahe bey? mereka pun menjawab dengan khas bahasa india "tike bey". kutanya lagi "kana kaya", merekapun menyahut "kana neiye". percakapan tadi menanyakan kabar mereka äpa kabar", "kabar baik"dan "sudah makan"- ""belum makan". itu saja kata-kata sakti bahasa india yang kutahu. kemudian kusempatkan ambil foto mereka berdua, dan kemudian kuminta salah satu dari mereka mengambil gambarku dibawah pohon korma yang sedang berbuah lebat.

Ya demikian dulu, cerita pagi ini dimusim panas yang lembab. Keringat bercucuran dipagi hari semoga bisa tetap membantu menjaga kondisi badanku tetap sehat dan bugar. Terima kasih Tuhan atas segala nikmat dan karuniamu. Semoga keluargaku yang di Indonesia juga selalu sehat dan bahagia, seperti halnya aku disini.