28 June 2014

6 Tahun Yang Begitu Cepat!


Souq Waqif - Doha - Qatar 2009
Hari ini, 6 tahun yang lalu, menjadi hari bersejarah bagi saya. Saat dimana kedua kalinya kaki ini menapak di negeri Qatar. Demi memenuhi sebuah panggilan kerja untuk menggapai sebuah impian hidup. Sendiri, tanpa istri dan anak-anak. Keduanya saya tinggalkan di negeri tercinta, Indonesia. 

Tiga bulan sebelumnya, saya telah memenuhi undangan face to face interview di kota Doha. Cuaca waktu itu nyaris tak beda jauh dengan cuaca Indonesia. Kisaran suhu udara 29-32 derajat celcius di siang hari. Tapi beda dengan cuaca bulan Juni waktu itu, suhu udara sangatlah menyengat kulit.

Jam 05.30 pagi pesawat Qatar Airways mendarat sempurna di landasan pacu Doha International Airport. Tanda “dilarang merokok” dan “kencangkan sabuk pengaman” sudah dimatikan. Awak kabin pun dengan sigap mengumumkan kepada seluruh penumpang untuk meninggalkan pesawat, dan mengingatkan agar tak ada barang yang tertinggal di dalam kabin.

Ketika tubuh ini keluar dari kabin pesawat, suhu udara pagi itu layaknya suhu udara siang hari di Indonesia. “Wow! Pagi hari sudah panas begini”, pikir saya.

This is life, this is my choice and I will enjoy it!

Hidup memang pilihan. Mau memilih yang ini atau yang itu, itu terserah diri kita masing-masing.

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bahkan sesuatu yang akan terjadi di menit-menit kemudian saja, tak ada yang pernah tahu. Semuanya misteri ilahi. Manusia sekedar menjalani dan berusaha mendapatkan takdir terbaik dalam hidupnya.

Menjadi TKI, Siapa Takut!

Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri merupakan sebuah pilihan hidup. Tak banyak yang memilih menjadi TKI. Pepatah lama mengatakan “Daripada hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri (bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri)”.


Banyak kisah sedih dan pilu dari para TKI, khususnya tenaga kerja rumah tangga. Banyak dari mereka yang diperlakukan tidak baik oleh majikannya. Bisa jadi majikannya yang memang salah, atau kurangnya pengetahuan mereka dalam menghadapi perbedaan lingkungan kerja, bahasa dan budaya di negeri orang.

Menjadi TKI hanya sebuah cara untuk menjemput rezeki yang telah dijanjikan oleh Sang Maha Pemberi Rezeki.

Saya, merupakan satu dari sekian banyak TKI yang mengais rezeki di negeri yang kaya minyak ini. Sampai saat ini, tak kurang dari 6000 TKI Professional bekerja di Qatar. Banyak dari mereka bekerja di sektor minyak dan gas (migas). Sebagian lainnya di sektor telekomunikasi, perhotelan, kesehatan dan konstruksi. Sementara jumlah terbesar memang masih ditempati oleh tenaga kerja rumah tangga.

Beda Negara, Beda Budaya.

Bekerja di luar negeri merupakan pengalaman pertama saya dalam hidup. Tak pernah sekalipun diri ini bekerja di negeri orang. Sejak awal kaki ini mendarat, cuaca sudah jauh berbeda.

Hari-hari berlalu bekerja di negeri orang, banyak pengalaman yang saya dapat. Sebuah pengalaman hidup yang luar biasa bisa bekerja dengan lingkungan kerja multi nasional, multi kultur, multi bahasa dan multi-multi lainnya.

Walaupun negeri ini memakai bahasa arab sebagai bahasa nasional, tapi bahasa inggris menjadi bahasa pengantar sehari-hari yang banyak dipakai di Qatar. Kemampuan bahasa inggris menjadi sebuah mandatory sebelum anda memasuki negeri ini, jika anda mau bekerja.

Bahkan saking seringnya bahasa inggris yang dipakai, sampai-sampai bahasa arab saya masih seputaran “khaif khaluk atau khaif khalik” saja. Duh! Mau sampai tahun keberapa saya kan menguasai bahasa arab dengan baik. Malu rasanya jika suatu saat nanti saya resign dari negeri ini tapi saya nggak bisa bahasa arab. Apa kata dunia???

Tapi lagi-lagi, walaupun bahasa inggris menjadi bahasa pengantar yang banyak dipakai, saya menilai bahasa inggris saya juga belum bagus-bagus amat. Ya sebatas memperlancar pekerjaan dan hubungan sesama manusia di lingkungan kerja atau sosial.

Disana sini, karakter manusia sebenarnya sama saja. Ada yang baik, ada yang temperamen, ada yang silent dan banyak lagi tipe manusia.

Jauh sebelum saya putuskan menjadi seorang TKI di Qatar, selama 6 tahun pula banyak pengalaman berinteraksi dengan berbagai macam manusia di Indonesia. Dari mulai Aceh hingga Biak, Papua.

Ketika saya komparasikan dengan berbagai karakter manusia di negeri Qatar, ternyata tak jauh beda. Dimana-mana, manusia itu banyak ragam sifat dan sikapnya.

Tinggal bagaimana kita sebagai manusia menyikapinya. Prinsip hidup saya adalah “Cobalah mengerti akan kondisi orang lain, jangan pernah memaksa orang lain untuk mengerti tentang diri saya”.

Alhamdulillah dengan prinsip tersebut, saya bisa hidup berdampingan secara baik dengan berbagai macam manusia dari berbagai Negara. Bisa melayani mereka dengan baik secara professional.

Sebagai seorang Nurse, kemampuan mengenali karakter manusia dari berbagai latar belakang Negara dan budaya sangatlah penting. Dengan mengetahui sifat dan karakter mereka, maka kita pun tahu sikap terbaik seperti apa yang kita suguhkan ke mereka.

Qatar layaknya Miniatur United Nations.

Benar-benar sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga. Menjadi impian besar bagi saya bisa tinggal dan berinteraksi dengan manusia dari berbagai Negara. Qatar merupakan salah satu tempat untuk menggapai impian itu. Kenapa begitu? Karena di negeri ini, kita bisa temui orang-orang dari berbagai belahan bumi. Walaupun tak mesti dekat dengan semuanya, tapi disini kita bisa temui hampir semua nationality (kebangsaan).

Dari mulai warga Negara Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Jepang, China, Vietnam, Myanmar, India, Nepal, Pakistan, Srilanka, Bangladesh, Afghanistan, Australia, Inggris, Belanda, Spanyol, Venezuela, Canada, Amerika, Afrika Selatan, Tunisia, Mesir, Yordania, Palestina, Aljazair, Yaman, Oman, Bahrain, Saudi, Sudan, Kenya, Ghana, Nigeria, dan banyak Negara lainnya. Dan sudah tentu berinteraksi dengan orang-orang Qatar.

Mereka semua datang ke negeri ini sama-sama untuk mengadu nasib, menjemput rezeki yang sudah dijanjikan. Masing-masing bekerja di bidangnya. Dari mulai tukang kebun, tukang sapu jalan, tukang bersih-bersih rumah, pembantu rumah tangga, supir pribadi, supir taksi, pekerja bangunan, pelayan toko, pelayan restaurant, pekerja perhotelan, operator pabrik migas, tukang insinyur, hingga para manager.

Semua bekerja sesuai porsinya. Termasuk saya yang berlatar belakang pendidikan nursing, maka Alhamdulillah saya juga bekerja di bidang nursing.

6 tahun saya disini, serasa begitu cepat. Rambut putih kian banyak. Bukan karena stress kerja tentunya, tapi lebih karena tipe rambut saya yang gampang beruban. Saya tak pernah menyalahkan Bapak tercinta (kenapa membawa Gen begini), tapi mungkin ini adalah rezeki bagi saya pribadi, yang diberikan Nur (cahaya) lebih banyak dari yang lain.

Terima kasih untuk kedua orangtuaku tercinta atas segala pelajaran hidup dan kehidupan yang telah engkau berikan. Segala yang telah kuberikan mungkin tak akan pernah sanggup membayar segala jerih payahmu mendidikku dari kandungan hingga sebesar sekarang. Maafkan saya wahai Bapak dan Ibu, jika anakmu ini tak berbakti kepadamu.

Terima kasih untuk istri dan anak-anakku tercinta yang setia menunggu di kejauhan sana. Karena kalian, semangat hidup ini terus membara. Karena kalian, tak ada kata lelah untuk terus berjuang dalam hidup ini. Semoga Allah SWT, senantiasa menjadikan keluarga kita sakinah mawaddah warrahmah. Aamiin.

Dukhan, 27 Juni 2014

Sugeng Bralink

09 June 2014

Kenapa Nokia XL-ku Tak Bisa Buat WhatsApp-an?

Photo: nokia.com


Bulan Mei 2014, Nokia baru merilis smartphone baru dengan harga terjangkau. Nokia yang tadinya menggunakan OS Symbian dan Windows, kini Nokia mulai merambah ke OS Android.

Namun demikian android yang dipakai Nokia tak sepenuhnya mendukung semua aplikasi yang dirilis oleh android. Sebagai contoh terjadi pada aplikasi WhatsApp. Aplikasi dengan ikon berwarna hijau ini merupakan aplikasi chat messenger yang lagi populer saat ini.

WhatsApp berikon hijau ini tak bisa kita dapatkan di Nokia Store. Maka alternatifnya kita bisa download langsung via whatsapp.com/android atau melalui whatsapp apk file yang bisa kita dapatkan di media penyedia file download.

Tapi ternyata, aplikasi WhatsApp berlogo warna hijau tak mampu bertahan lama. Tak lebih dari dua minggu, aplikasi WhatsApp tak lagi bisa digunakan. Tanggal 8 Juni lalu aplikasi WhatsApp di smartphone saya tak lagi berfungsi.

Setelah berselancar di dunia maya dengan bantuan Uncle Google, akhirnya ketemu juga solusinya. Kata kunci yang saya pakai untuk mencari pemecahan masalah ini adalah "Why WhatsApp not support at Nokia XL?". Dari sekian  link yang ditawarkan, kursor mengarah pada satu link yang menurut saya tepat.

Pada link nomer dua, terdapat judul artikel "Making WhatsApp to work on Nokia X, X+ and XL" dari sebuah website techmesto.com. Dari situ dijelaskan tentang tak berfungsinya WhatsApp default yang berlogo warna hijau pada perangkat handphone pintar Nokia X, X+ dan XL atau biasa disebut dengan Nokia X Family.

Jika kita sebagai pengguna Nokia X family sudah terlanjur mendownload dan memakai WhatsApp warna hijau dan saat ini tak lagi berfungsi, jangan khawatir! Semua masalah ada solusinya.

OS Android yang dipakai Nokia X family ternyata support dengan WhatsApp berlogo warna biru. Aplikasi ini dinamai WhatsApp Plus. Lagi-lagi, aplikasi ini belum tersedia di Nokia Store atau 1Market Store sebagai gudangnya aplikasi yang dipakai Nokia X family. Untuk mendapatkan aplikasi WhatsApp Plus, cukup mudah. Klik saja www.whatsapp-plus.net/download.php.

Selanjutnya klik pada ikon DOWNLOAD NOW  berwarna biru (Latest version 5.75D). selanjutnya file apk ini akan tersimpan di folder download. Setelah terdownload sempurna, tinggal buka file aplikasi WhatsApp Plus dan ikuti proses instalasinya sampai selesai.

Selamat menikmati WhatsApp Plus dengan didukung android technologi pada perangkat Nokia X Family.

Semua permasalahan selalu ada solusinya!

Dukhan, 9 Juni 2014
Sugeng Bralink
riyadi.sugeng@gmail.com

08 June 2014

Menggenjot Pedal, Menyibak Kabut dan Menyusur Pagi

Pagi buta, jarum jam menunjukkan pukul 03:15, alarm berbunyi kencang. Rasanya mata masih terasa berat untuk dibuka. Suara azan sudah berkumandang dari si handphone pintar.

Segera saya matikan alarm, beranjak dari peraduan dan menuju kamar mandi. 

Gosok gigi, berwudhu dan bergegas ke masjid untuk jama'ah subuh. Tapi belum lagi usai raka'at kedua, perut ini bergejolak, ada panggilan alam yang tak bisa ditunda lagi. Segera saja saya mundur dari shaf sholat, meluncur ke kost~kost an dan melepas apa yang mengganjal. Hehhe.

Akhirnya, jadilah sholat subuh sendirian di rumah. Walau nggak dapat pahala 27 derajat dari sholat jama'ah, tapi saya masih bersyukur bisa sholat di awal waktu. Dan semoga Allah sudah mencatat langkah saya menuju masjid, walau nggak sampai salam.

Sesuai rencana semalam, pagi ini saya akan menuju Zekreet. Sebuah kawasan perumahan karyawan kontraktor yang berjarak sekitar 10 KM dari Kota Dukhan, kota dimana saya tinggal sekarang. 

Selepas subuh, satu per satu kelengkapan gowes saya cek.

Helm, kartu identitas diri, uang, kaca mata, sepatu ket yang sudah mulai usang, dan biker jersey tentunya.

Selanjutnya pengecekan tekanan ban depan dan belakang. Tekanan ban harus benar~benar bagus agar ringan kayuhannya. Pompa ban portable nggak lupa selalu dibawa untuk berjaga jika tiba~tiba ban kempes di tengah perjalanan. 


Air minum dalam botol. Ya air minum sangat penting untuk mengobati rasa dahaga dan menghilangkan lelah. Jangan sampai dehidrasi dan pingsan gara~gara kehausan! 

Satu botol isi 500 mili liter cukuplah untuk menemani perjalanan gowes sekitar 25 KM pagi ini.

Aplikasi CycleDroid segera saya aktifkan. Aplikasi ini berfungsi untuk mengukur jarak tempuh, kecepatan, waktu, dan berbagai macam detail informasi lainnya seputar kayuhan sepeda. Termasuk juga berapa oksigen yang dikonsumsi, berapa gram lemak yang dibakar, berapa kalori yang dipakai dan map wilayah yang kita lalui. 

Menembus pagi yang masih temaram, kayuh demi kayuh, sampailah saya di Dukhan Highway atau jalan bebas hambatan Dukhan.

Lampu jalanan yang berjajar rapi masih menyal menerangi awal pagi yang masih lumayan gelap. Sesekali saya hentikan sepeda untuk mengambil gambar, sekedar untuk mengabadikan momen. 

Melewati jarak sekitar 5 KM, atau tepatnya di pertengahan antara Kota Dukhan dan Zekreet, nampak kabut tebal mulai turun. Hawa udara menjadi sangat sejuk. 

Gowes..gowes..gowes...sampai juga di tugu selamat datang kota Dukhan. Ada monumen logo perusahaan dan tulisan Welcome to Dukhan City. Selfi..selfie sebentar biar momen tak terlewat untuk direkam. 

Sesekali kendaraan roda empat lewat dengan kecepatan lambat. Maklum lah jarak pandang hanya 10~20 meter saja. Mobil patroli polisi pun sesekali melintas, untuk memastikan semua aman~aman saja di jalan raya. Truck~truck sampah juga berjalan pelan menembus kabut yang belum turun sepenuhnya. 

Beberapa puluh meter menuju Zekreet Brigde, nampak di seberang jalan beberapa truck sedang berhenti di pinggir jalan. Karena apa? Karena saat ini kabut pagi sudah benar~benar turun. Dan jarak pandang kian memendek. 

Nggak sampai satu jam, sampailah saya diatas jembatan Zekreet. Sebuah jembatan yang menghubungkan Zekreet Industrial area dengan kawasan Zekreet Village, Zekreet Arabic School dan Cuban Hospital. 

Kenapa Cuban Hospital? Cuban Hospital adalah sebuah rumah sakit yang semua tenaga kesehatannya didatangkan dari negara Cuba. Baik tenaga medis maupun paramedis. 

Sepeda warna biru yang saya beli sekitar tiga bulan lalu ini terus melaju menyusuri jalanan aspal menuju kembali ke Kota Dukhan. Lagi~lagi sesekali saya lewati sekumpulan kabut yang menutupi jalan dan padang pasir. 

Badan kian berkeringat. Tak luput juga sepedaku yang mulai ditutupi embun pagi. Bulu rambut di tangan pun ikut berembun. Sejuk sekali udara pagi ini. Di jalanan biasa ini, tak satupun kendaraan atau manusia yang saya temui. Jadi sendirian dan sepi. 

Setelah menempuh jarak 26 KM, akhirnnya sampailah kembali ke titik awal acara gowes pagi ini. Rehat sebentar untuk melepas keringat, akhirnya selesai gowes pagi ini. Menyibak kabut dan menyusur pagi di kota Dukhan. Kota yang punya makna kabut atau asap. 

Dukhan, 8 Juni 2014

04 June 2014

Catatan Kecil, Meneladani Pak Umay

June 4, 2014 at 7:44am

Semalam kami mengaji bersama. Kami kedatangan tamu dari Indonesia. Dipertemukan dengan seorang ulama yang menurut saya luar biasa. Ilmunya berisi tapi beliaunya sangat bersahaja.

Pak Umay, begitu orang menyebutnya dan begitu pula beliau ingin dipanggil atau disebut. Beliau nggak senang jika dipanggil pak ustadz apalagi kyai. Panggil saya Pak Umay saja, ungkap beliau semalam.

Sejak dalam kandungan ibunya yang masih berumur empat bulan, calon bayi Pak Umay ditinggalkan sang Ayah yang meninggal dunia.
Menjadi yatim sejak kecil bukanlah kemauannya. Yatim merupakan pilihan Allah yang akhirnya menjadikan Umay kecil menjalani hidup susah karena kemiskinan. Akan tetapi, kemiskinan tidak menyurutkan niatnya untuk terus belajar dan belajar.

Sepeninggal ayahnya, Ibunda Pak Umay harus merawat anak-anaknya yang masih kecil. Hidup sendirian dengan anak-anak tanpa adanya suami, menjadikan keseharian Ibunda Pak Umay dipenuhi dengan ibadah. Sholat tahajud menjadi amalan rutin disamping sholat lima waktu. Bahkan menurut kisah Pak Umay semalam, ibundanya menghiasi hari-harinya dengan tilawah Alqur-an.

Dalam waktu enam hari, terkadang sudah khatam 30 juz. Sungguh seorang Ibu yang luar biasa. Ditengah lemahnya ekonomi, beliau mengandalkan kekuatan do-a untuk mengasuh dan menjalani kehidupan bersama buah hatinya.

Kisah perjuangan untuk bersekolah Pak Umay bisa kita temui di blog-blog. Bahkan kisah hidupnya pernah ditulis menjadi skripsi mahasiswa sarjana strata satu UIN Jakarta, Khoerudin*. Skripsinya berjudul Peranan KH. Umay Dja'far Shiddiq, MA dalam mengembangkan islam di Jampang Kulon, Sukabumi, yang dirilis pada tahun 2010 lalu.

Hitung-hitungan ekonomi, sangat sulit bagi Umay kecil bisa mendapatkan sekolah yang bagus layaknya keluarga lain. Akan tetapi ada sebuah kisah yang tak bisa dilupakannya, yang akhirnya menjadi penyemangat hidupnya untuk terus menuntut ilmu. Berikut cuplikan tulisan dari skripsi Pak Khoerudin,

Sudah dua bulan tahun pelajaran 1960-1961 berjalan, sepulang mengaji dan menginap di Masjid Bojongwaru, pagi itu ia merasakan hatinya perih tak terperi. Pikirannya melayang jauh, mem­ba­yangkan suasana ketika tak lama lagi anak-anak seusianya beramai-ramai ber­gerombol berjalan kaki menuju sekolah SD Bojong Genteng, yang jaraknya se­kitar dua kilometer dari rumahnya, se­mentara ia hanya bisa memandangi sua­sana itu. Umay kecil sampai mengurut dada, ia merasa sedih, keyatiman dan ke­miskinan serasa telah membedakannya dari yang lainnya. Ibunya tak sanggup memasukkannya ke sekolah.

Entah kenapa, sore harinya sang ibu berpesan, “Nanti malam tidak usah tidur di masjid. Di rumah saja.”
Tanpa berpikir kenapa, ia menjawab, “Ya.”.

Kira-kira pukul tiga dini hari ia di­bangunkan ibunya dan diajaknya ke tikar shalat. Rupanya sang ibu baru saja sele­sai shalat malam. Ternyata ibunya itu juga sedang menangis karena derita hati anak­nya yang ingin sekolah.

Kedua lutut ibunya dipertemukan de­ngan dua lututnya, kemudian sang ibu ber­ujar lirih, “Nak, semua manusia lahir de­ngan rasa ingin mulia. Ada manusia mulia karena kekayaannya, sedangkan kita mis­kin. Orang mulia karena turunan ra­den, sedangkan kita rakyat jelata. Orang mulia karena kerupawanannya, kita biasa-biasa saja. Orang mulia karena ke­pintarannya…maka carilah ilmu, untuk kemuliaanmu…”

Sesaat setelah mengatakan itu, ibu­nya mencium kening si anak, lalu di­pe­luknya di sela-sela isak tangisnya. Ibunya mengakhiri pembicaraannya de­ngan, “Maafin Emak, nggak bisa nyekolahin.”

Umay kecil tak begitu paham apa yang dikatakan ibunya. Dengan terkan­tuk-kantuk ia kembali ke kamarnya, lalu tidur lagi sampai  subuh  tiba.
Selepas Umay shalat Subuh, teringat olehnya sebagian dari ungkapan ibunya tadi malam, “Carilah ilmu, untuk kemulia­anmu…”
Banyak sekali orang yang turut membantu Pak Umay dari SD hingga jenjang pendidikan S3 nya. Nama-nama orangnya pun tak kan pernah lekang oleh waktu. Semalam beliau menyebutnya satu per satu dengan lancar, bahkan hingga berkaca-kaca.

Seorang anak yatim dari pinggiran hutan di Sukabumi ini, akhirnya pulang kembali ke Sukabumi untuk turut membangun desanya, mendidik anak-anak di kampungnya. Kebanyakan anak-anak yatim dan anak-anak yang kurang mampu.

Sebuah Yayasan didirikannya, Darul 'Amal. Yayasan ini mempunyai sekolah dan asrama yang sekaligus pesantren. Muridnya dari mulai TK hingga level SMA. Jumlahnya sudah ribuan. Subhanallah!

Pak Umay adalah juga seorang penghafal alqur'an. Nikmat sekali rasanya bisa mengaji bersama beliau. Penjelasannya tentang ayat-ayat alqur'an yang direfleksikan dalam kehidupan manusia sungguh mudah dicerna. Nama surat dan ayat-ayat dalam alqur'an dipahaminya dengan baik.

Semoga ada saatnya bisa mengaji lagi sama beliau.

Dukhan, 4 Juni 2014
Sugeng Riyadi Bralink

* Khoerudin, Fakultas Adab dan Humaniora, Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1431H/2010M.