10 July 2010

Tangisan terakhir

Oleh Asep Hermawan Sanudin


Kedatangan Satria di kampung kelahirannya jam tiga dini hari disambut nenek dan kakek yang sudah renta. Tampak wajah kedua manula itu berseri-seri menyambut kedatangan cucunya dari tanah rantau, yang sudah lama tidak bersua. Satria ditemani istri tercintanya masuk ke rumah sederhana itu. Satria mencium tangan kakek dan nenek yang kulitnya keriput telah dimakan usia.



Esoknya, nyanyian burung di pohon belimbing seolah menyambut kebahagiaan keluarga kakek Hadma. Suara ramai orang di kala pagi menyibukan kegiatan mereka ke pasar dan ke sawah. Tatkala kedamaian di sebuah desa sederhana penuh dengan kehangatan orang-orang yang saling menyapa.

Pagi yang cerah itu, Satria disuguhi makanan kesukaan pisang goreng. Sembari bercerita ria tentang pengalaman di perantauan, dia dikelilingi saudara sekitarnya. Tak ketinggalan, kakek Hadma dan nenek Minah pun ikut nimbrung mendengarkan. Tampak sekali kebahagiaan di mata kedua orang itu. Mereka tak sia-sia membesarkan Satria dan mendidiknya. Kini, mereka merasa bangga melihat kesuksesan cucunya.

Waktu pun berjalan cepat. Tak bisa lama-lama lagi di kampung tercinta, karena istri Satria juga perlu diantar ke kota kelahirannya yang berjarak kurang lebih tiga jam dari kampung itu. Setelah berpamitan kepada keluarga, Satria beserta istri pun pergi.

Kakek dan nenek itu melepas kepergian cucunya yang baru saja datang.
‘’Masih kangen rasanya sama cucuku’’ ujar nenek Minah.
‘’Nggak apa-apa, Satria pasti ke sini lagi’’ tukas kakek Hadma.
*****

Satria kecil diasuh dan dibesarkan nenek Minah beserta kakek Hadma. Kedua pasangan itu mempunyai dua anak perempuan. Esih dan Elis. Mereka mendambakan seorang anak laki-laki tetapi tidak juga dikaruniai. Satria terlahir dari Esih. Ketika masih bayi sekitar tujuh puluh limar hari, Satria tidak mau menyusu dan terus menangis. Tapi, kalau digendong dan dininak bobokan nenek Minah, Satria merasa nyaman. Akhirnya, Satria kecil diboyong ke kampung.

Meski statusnya hanya sebagai cucu, nenek Minah menyayangi Satria melebihi kasih sayang kepada anak-anaknya. Tak jarang jika ditanya orang, sering dibilang Satria anak bungsunya. Tak heran jika dia diperlakukan sebagai anak emas.
Satria memang merasakan kasih sayang nenek Minah dan kakek Hadma sangat spesial dibanding dengan cucu-cucu yang lainnya. Pernah nenek Minah bilang bahwa Satria itu bak anaknya sendiri, hanya tidak keluar dari rahimnya.

Saking sayangnya, rumah dan sebidang tanah yang mereka tinggali begitu saja dihibahkan kepada Satria yang kini telah dewasa. Tapi, sayangnya ketika ikrar pemberian tanah dan rumah itu tidak melibatkan Elis.

Mendengar kabar bahwa rumah telah diberikan cuma-cuma kepada Satria, Elis merasa iri. Kenapa mewariskan harta bukan langsung kepada anaknya, malahan ke cucu. Ini yang menyulut kemarahan bibi Satria. Pernah suatu hari Elis beserta Dadang suaminya memarahi nenek Minah dan kakek Hadma atas perkara itu. Dengan tenang kedua orang tua itu menjawab,

‘’Ini kan rumah dan tanahku, selama aku hidup terserah mau dikasihkan kepada siapapun. Tak ada orang yang bisa menghalangi keputusanku. Bukankah sawah dan kebunku sudah kujual demi menebus utang-utangmu ke rentenir dulu? ‘’ tandas kakek Hadma.

‘’Lagipula, rumah ini tidak semua diberikan ke Satria. Papilyun kecil ini buatmu’’ tambah nenek Minah.
Dadang, suami Elis menimpali perkataan mertuanya.

‘’Kalau begitu caranya, cucumu yang lain pun berhak mendapatkan warisan. Bukankah warisan itu harus diberikan kepada yang haknya? Sebelum ke cucu, harus ke anak dulu! Itu sepatutnya!’’ hentaknya sambil bersungut-sungut.

‘’Ini bukan warisan, ini memberi seperti hadiah. Apa salahku memberikan harta terhadap cucu?’’ kakek Hadma balik berargumen.
Tidak puas menerima keputusan yang dirasa tidak adil itu, Elis langsung hengkang beserta suaminya.

Setelah tiga hari kepergian Satria, tiba-tiba nenek Minah jatuh pingsan. Semua keluarga dan tetangga panik. Seorang petugas kesehatan didatangkan dan dinyatakan dia terkena tekanan darah tinggi dan perlu dirujuk ke Rumah Sakit Umum (RSU) terdekat. Untungnya ada tetangga yang memboyong nenek Minah menggunakan mobil sayur ke RSU. Jangan harap ada fasilitas ambulance gawat darurat yang gratis di pelosok desa.

Sesampai di RSU, kakek Hadma yang hanya berpendidikan SD itu mendatangi bagian Resepsionis Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dia mengacung-ngacungkan Kartu Tanda Pengenal kepada pihak RSU, supaya istrinya segera dirawat. Petugas acuh tak acuh, karena prinsip mereka ada uang anda dilayani. Setelah menunggu satu jam, salah satu cucunya yang bertempat tinggal dekat dengan RSU itu datang. Dengan membawa sejumlah uang, akhirnya nenek Minah bisa dirawat.

Satria mendapat kabar dari adiknya yang mengantar ke IGD bahwa neneknya masuk RSU. Dia segera berpamitan kepada mertua dengan maksud meluncur ke rumah sakit. Di perjalanan menuju RSU, tanpa terasa air mata Satria menetes teringat akan jasa-jasa nenek Minah terhadap dirinya.

Semasa enam tahun, Satria dikenal si pembuat onar karena tingkahnya yang dianggap kerap mengganggu teman sebaya. Suatu hari, Satria duduk di depan rumah melihat anak tetangga yang berjalan membawa sekantung minyak goreng.

‘’Apa itu di kantung plastik, Titin?’’ tanya Satria kecil mendekat.
‘’Minyak goreng, ang1’’ jawab anak kecil berusia lima tahun itu.
Tanpa basa basi lagi, sekantung minyak goreng ditepis Satria sehingga tumpah ke jalanan. Titin menangis dan mengadu ke orang tuanya. Satria menyeringai melihat kejadian tadi. Emaknya Titin langsung memaki-maki sambil menunjuk Satria kecil. Mulut Satria mencibir dan menunggingkan pantatnya seraya mengolok ibu yang sedang naik pitam itu.

Kejadian yang lain, Satria kecil suka main sumpit. Suatu sa’at dia melihat seekor burung bertengger di pohon mangga. Sumpit diarahkan ke burung tapi anak sumpitnya tidak mengena. Setelah putus asa mengejar burung yang telah terbang, Satria melirik seekor ayam dekat pohon pisang yang sedang mencari makan. Dia langsung memasukan anak sumpit dan meniupkannya tepat di tembolok ayam. Ayam langsung kesakitan dan Satria pun pergi. Sorenya, nenek Minah dan kakeh Hadma mendapat kiriman daging ayam dari tetangga.

‘’Kenapa ayamnya disembelih? Kena tetelo2?’’ tanya nenek Minah.
‘’Ayamnya ada yang nyumpit orang, untung masih kelihatan sekarat jadi bisa disembelih’’ ujar tetangga tadi.

Suatu hari, Satria bermain korek api milik kakek Hadma. Entah bagaimana pikirannya, dia langsung menyulut kasur milik nenek Minah di ruangan tengah rumah. Setelah menyulutnya, Satria dengan wajah polos memberitahu kakek Hadma yang sedang berada di belakang rumah. Kasurnya dibakar. Dengan tergesa-gesa kakek Hadma dan nenek Minah langsung mengambil air memadamkan kasur yang sedang dilahap api.
Banyak sekali ulah Satria kecil yang dianggap menjengkelkan para tetangga. Walaupun begitu, nenek Minah selalu mengatakan Satria anak yang baik. Dia sering membelikan buku merek Leces dan spidol supaya Satria betah tinggal di rumah. Berbekal buku Leces, Satria sering menggambar. Tidak hanya gemar menggambar di buku saja, tapi juga suka menggambar di dinding rumah.

Jika dibawa ke pasar, Satria akan jongkok dan mematung melihat mobil-mobilan di toko mainan. Dia tidak akan beranjak, kalau nenek Minah tidak membelikan mobil-mobilan yang ditunjuk Satria.

1ang: panggilan kakak laki-laki (abang) di suku Sunda.
2tetelo: nama penyakit ayam.


Semasa SD, Satria sering bermain gundu dan karet gelang. Adakalanya, kawan sebaya yang sering curang dan mengambil gundu milik Satria. Bocah kutil itu langsung terlibat adu mulut dan akhirnya beradu pukul. Di kampung perkelahian antar anak malah sering jadi tontonan. Satria memukul Eli yang berbadan bongsor. Karena perbedaan postur, akhirnya Satria telak dan bibirnya jontor kena hunjaman pukulan. Satria langsung menangis dan pulang. Terlihat nenek Minah yang sedang menyapu halaman belakang.

‘’Ada apa?’’ tanyanya.
‘’Kelahi sama si Eli, marahin dia mak!’’ Satria sambil menangis.
‘’Tak usah, nak. Ntar juga kamu baikan lagi. Kamu tak boleh dendam. Besok main lagi sama dia ya?’’ tandas nenek Minah.
Lamunan Satria buyar ketika kondektur bus itu berteriak,
‘’Persimpangan RSU...!!’’.

Satria langsung turun di perempatan RSU, dan naik ojek menuju ke IGD Rumah Sakit di daerah tersebut. Setelah tiba, dia langsung menemui nenek Minah yang kelihatan berbaring di tempat tidur ruangan gawat darurat.
Satria langsung mendekati sambil memegang tangan nenek Minah.

‘’Emak minta ma’af’’ suara nenek Minah pelan.
‘’Iya, sama-sama. Insya Allah emak akan sembuh seperti sediakala lagi’’ tukas Satria.

Kemudian salah seorang petugas memberitahu bahwa nenek Minah perlu dirawat inap. Kantung mata nenek Minah keriput dimakan usia. Rambutnya sudah memutih, dan gigi geliginya sudah tanggal. Tubuhnya hanya bisa terbaring lemas di bangsal penyakit syaraf. Dokter mendiagnosa nenek itu dengan stroke, salah satu penyakit terminal usia lanjut yang mematikan. Ketambah lagi otaknya mengalami perdarahan setelah dipastikan melalui CT-Scan.

Kehadiran Satria, kakek Hadma dan Esih anak perempuannya yang pertama menjadi pemacu nenek Minah untuk sembuh kembali. Rombongan keluarga dari istri Satria berdatangan membesuk keadaan nenek Minah yang kini masih terbaring lunglai. Dia hanya bisa makan dengan menggunakan sebuah selang yang dimasukan dari hidung. Oksigen dengan alat monitor masih terpasang.

Hampir setengah bulan dia dirawat. Elis tak kunjung datang menjenguk, karena alasan banyak urusan. Seolah, tak mau mengurusi ibu kandungnya. Setelah perawatan intensif, dokter spesialis penyakit syaraf memperbolehkan nenek Minah untuk pulang dengan rawat jalan.

Kondisi nenek Minah semakin hari semakin terpuruk. Rasa pusing dan perdarahan di otaknya membuat dia mempunyai gangguan berbicara dan tak bisa jalan. Dalam kurun satu tahun dia sering masuk dan keluar rumah sakit. Walaupun demikian, nenek Minah tetap semangat dan masih mendambakan cicit dari Satria.

Setahun perantauan, Satria pulang kampung. Terlihat nenek Minah semakin rapuh, jalannya digusur dan tubuhnya semakin kurus. Suaranya semakin dalam dan kurang jelas. Tapi, tatapan matanya masih bersinar tatkala melihat kedatangan cucunya.
Tak terasa, hampir sebulan Satria beserta istri menghabiskan waktu liburan di kampung yang bersahaja dan penuh kehangatan. Sa’atnya dia kembali lagi ke tempat perantauan. Ketika berpamitan, nenek Minah tak seperti biasanya memegang tangan Satria dengan erat dan menangis terisak-isak. Seorang tetangga, berusaha menghibur nenek Minah sambil merangkulnya.

‘’Satria akan kembali, tak usah bersedih’’ perempuan setengah baya itu berusaha untuk menghiburnya.

‘’Mak, Satria pamitan dulu ya. Insya Allah kita akan ketemu lagi. Semoga emak panjang umur’’ Satria sembari mencium tangan neneknya.
Nenek Minah beserta kakek Hadma melepas kepergian cucunya dengan air mata berlinang dan melambaikan tangan.

Satria sering memonitor kesehatan nenek Minah, dengan menanyakan kepada ibu dan adik-adiknya. Hari demi hari kondisi nenek Minah semakin terpuruk. Akhir-akhir ini dia sudah tidak bisa jalan. Suaranya sudah tidak jelas, akibat penyakit stroke yang dialami.

Anak perempuan yang pertamanya Esih, ibunya Satria sangat telaten merawat nenek Minah. Tiap hari memandikan, menyuapi makanan dan menungguinya di rumah.
‘’Aku ingin sembuh dan panjang umur supaya bisa melihat Satria membawa cicit kemari’’ ujarnya.

Di perantauan seusai shalat Jum’at, Satria pulang ke rumah. Didapati istrinya terdiam.

‘’Ada apa?’’ tanyanya.
‘’Mas jangan bersedih ya, ada berita duka dari kampung. Nenek Minah meninggal’’ jawab istri Satria.

‘’Inna lillahi wainna ilaihi roojiu’un’’ Satria berkaca-kaca.
Langsung seketika dia menghubungi keluarganya. Memang benar nenek Minah telah tiada. Segenap keluarga memohonkan ma’af atas segala kesalahannya, dan Satria pun mendo’akan supaya arwah almarhumah diampuni dan Satria berpesan supaya keluarga yang ditinggalkan supaya tabah. Terdengar suara kakek Hadma parau ditelepon. Dia terisak-isak berduka karena pasangan hidup telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Satria langsung teringat ketika dia berpamitan untuk pergi merantau, nenek Minah terisak-isak dan memegangi tangannya erat sekali tidak seperti biasa. Ternyata, itu adalah tangisan terakhir nenek Minah bertemu cucu tercintanya.

‘’Mas, sedih?’’ tanya istrinya.
‘’Iya, tapi kita harus menerima taqdir-Nya. Kita tidak akan tahu kapan dan di mana kita akan meninggal. ‘’ tukas Satria.
Ada suka dan ada duka. Ada yang pulang dan ada juga yang datang. Nenek Minah telah pulang selamanya, membawa duka yang mendalam di hati Satria karena tidak bisa menyaksikan detik-detik terakhir dan tidak bisa mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir nenek tercintanya. Nenek Minah tidak bisa menyaksikan cicit yang sedang dikandung istri Satria sekarang.

‘’Ya Allah, ampuni segala dosa nenek Minah binti Mustawi, terimalah segala amal kebajikannya, luaskan dan terangkanlah di alam kuburnya. Semoga dipertemukan di surga Firdaus nanti’’ Satria di dalam do’anya sambil meneteskan air mata.

TAMAT
Qatar, 10 Juli 2010.
uploaded on July, 2010 at 1800hrs waktu Dukhan