26 May 2010

Saatnya Kurma Berbuah

Oleh Sugeng Riyadi Bralink

Saatnya musim panas tiba. Satu musim yang sebenarnya tidak dinanti kedatangannya. Karena ketika gurun pasir menjadi semakin panas, maka orang-orangpun enggan keluar rumah. Suhu diluar rumah bisa mencapai 40 derajat malah terkadang sampai 45-50 derajat celcius. Suhu yang lumayan amat sangat panas. Suhu yang cukup untuk membakar kulit manusia.

Disaat musim ini tiba, disaat itu pula menjadi sebuah kalender pendidikan di qatar bahwa saatnya liburan sekolah. Anak-anak sekolah beserta guru-guru tentunya saatnya menikmati liburan sekolah sepanjang satu sampai dua bulan. Banyak diantara penduduk lokalpun yang bepergian keluar Qatar untuk menikmati suhu udara yang lebih sejuk tentunya.



Disamping itu pula, disaat-saat pergantian musim seperti sekarang ini. Menginjak bulan maret-april suhu udara sedang hangat-hangatnya. Suhu yang tidak berbeda jauh dengan suhu di negara tropis seperti Indonesia. Namun masuk bulan mei ini, suhu udara merangkak naik dengan suhu minimum di pagi hari sehabis subuh saja menembus 30 derajat celcius. Di siang bolong, ketika matahari diatas ubun-ubun maka suhupun mencapai 40-45 derajat celcius.

Kita sebagai warga pendatang harus pintar-pintar menjaga kondisi tubuh. Ketika kita tak bisa mengontrolnya maka bisa-bisa sengatan panas menerpa kita. Sengatan panas yang sangat bisa menjadikan satu kondisi yang disebut "Heat Stress" atau "Heat Stroke". Satu kondisi panas yang sangat menyerang kondisi tubuh manusia. Kulit menjadi sangat kering, dan bisa menjadikan korbanya hilang kesadaran.

Namun disisi lain, ada sesuatu yang ditunggu ketika musim panas atau summer ini tiba. Pertama adalah saatnya kurma berbuah. Tanaman kurma yang menjadi tanaman ikon di seluruh negeri gurun pasar atau tanah arab. Maka disaat ini pula, mereka mulai menampakkan bunga-bunganya yang kemudian berubah menjadi buah-buah mungil yang berwarna hijau tua. Dalam satu pohon bisa muncul sekira lebih dari 5 tangkai. Kalau mau menghitungnya, dalam satu tangkai mungkin bisa mencapai dua ratusan lebih biji buah kurma. Namun sewaktu tumbuh membesar, buah-buah kurma ini ada juga yang berjatuhan.

Sebagai satu cara agar buah kurma muda tidak berjatuhan, maka mereka mengikatnya tangkai kurma tadi ke batang daun kurma. Dan terkadang kulihat dibungkus dengan kain strimin ( kotak-kotak kecil) yang mana bisa menahan buah kurma supaya tidak berjatuhan.


Selain musim buah yang sebenarnya. Ada juga musim yang lain ketika musim panas ini tiba. Musim panas yang merupakan satu musim yang membuat orang keluar rumah, membuat para pedagang di pusat kota saling berlomba memberikan diskon harga barang. Boleh dibilang saatnya "perang diskon". Dari produk barang murah sampai mewah. Bisa produk-produk sembakau, alat elektronik sampai mobil yang merupakan barang dengan harga yang lumayan tidak murah.

Namun itulah saatnya untuk memancing penduduk yang malas keluar rumah. Mau tidak mau akhirnya, menarik juga banyak orang untuk bisa terjun langsung menikmati arena perang diskon ini. Ya ini bisa menjadi pengalih rasa yang tidak nyaman akibat panas yang menyengat. Pengalih rasa sumuk menjadikan rasa yang sejuk di hati.

Dukhan, 25 Mei 2010 21.10 waktu Qatar

22 May 2010

Menikmati Udara Pagi Dukhan Township

Oleh Sugeng Riyadi Bralink


Pagi hari sepulang dinas malam di Umm Bab Fire Station, kutaruh tas dan seperangkat alat-alat EMT. Jarum jam menunjukkan angka 06.25 waktu qatar. Kusempatkan merapihkan kamar dan mencuci beberapa potong baju. Maklum bujangan lokal, jadi harus mengerjakan semuanya secara mandiri. Sejak dalam perjalanan pulang dari Umm Bab dengan Transport Facility dari perusahaan, kuniatkan untuk mengayuh sepeda kumbangku mengelilingi kota Dukhan. Ya lumayanlah untuk menguras keringat sambil menjaga kesehatan. Mungkin dengan keringat yang keluar nanti, kalori yang tersisa tidak menjadi tumpukan lemak dan menjadikan tubuh kurang sehat.
"
Jarum jam menuju ke angka 06.40, kemudian aku cek sepeda kumbang yang sebenarnya bukan milikku. Sepeda milik temanku yang berbaik hati meminjamkan kepadaku. Setelah kucoba kayuh, ternyata ban depan sedikit kempes. Balik lagi deh aku. Kuambil pompa ringan berwarna silver, kugenjot pompa dengan sedikit tenaga. Tenaga sisa malam hari, karena belum sarapan pagi. Tapi ya masih mampu mengisi angin di ban depan sepeda kumbangku ini.

Dengan semangat 45 kubawa turun sepedaku ini dari lantai dua flat 222 menuju pelataran sebuah komplek perumahan karyawan perusahaan tempatku bekerja. Suhu udara nggak terlalu panas, ya berkisar 30 derajat celcius. Udara yang terbilang panas kalau berada di daerah tropis, namun kurasakan bahwa udara segini gak terlalu panas karena berada di gurun pasir. Kukayuh sepedaku pelan namun pasti. Posisi gigi sepeda berada di paling tinggi, sebelah kanan di angka 7 atau angka maksimal dan sebelah kiri di angka 3. Keduanya berada diangka maksimal untuk menghasilkan kayuhan maksimal juga. Dan sepedakupun melaju dengan kecepatan sekitar 40 Km/jam. eee...tapi gak tahu pasti lah, karena sepedaku ini kan gak ada odometernya. ya pakai ilmu kiro-kirologi lah..hehehhe.

Kupintasi security gate disamping DOMB. Ini adalah sebuah gedung dimana kantor-kantor managemen perusahaan khususnya untuk kawasan Dukhan. Kulihat seorang security yang kalau gak salah berwajah arab. Tak lupa kusapa dia, dengan salam khas arab ässalamuálaikum, khaif haluk? (ucapan salam sesama muslim, dan menanyakan juga , apa kabar?).

Kupintasi security gate, kukayuh sepedaku smakin kencang menuju kearah Dukhan Beach atau Pantai Dukhan. Jarak sekira 300 meter dari security gate nampak berdiri megah gedung pemadam kebakaran Dukhan atau Fire Station Dukhan yang bercat merah dikombinasi warna krem. Warna merah sebagai lambang api sangat cocok sekali dipakai untuk gedung pemadam ini. Sayup-sayup kudengar seseorang memanggilku dari dalam gedung fire station tersebut. Namun bukan maksud mengacuhkan, aku terus mengayuh sepedaku ini. sekira 500 meter kemudian pantai dukhan sudah nampak sangat indah dengan semilir angin dipagi hari menerpa wajahku.

Sepoi-sepoi angin di pagi hari yang sangat hangat menerpa wajahku yang memakai kaca mata hitam dan kututpi kepalaku dengan topi putih. Ya lumayan untuk sedikit berlindung dari sengatan mentari yang sudah smakin panas. Kulanjutkan menyisiri jalanan didepan Dukhan Water Sports dan berbalik arah ketika sudah berada didepan sebuah gedung meteorologi Dukhan.

Kuputar balik sepeda menuju arah semula dan ketika sampai didepan fire station kudengar lagi seseorang memanggilku dengan suara lantang. Mungkin ada fireman indonesia didalam atau mungkin ada kababayan (panggilan akrab "sahabat" dalam bahasa tagalog). Terpaan angin semakin kencang ketika memutar balik sehingga gigi sepeda kuganti ke gigi yang lebih ringan. walau akhirnya kecepatan sepedaku smakin lambat. tapi tenaga yang dikeluarkan gak begitu melelahkan.

DOMB kulewati kembali dari arah bagian samping sebelah barat. Gedung yang nampak megah sebesar nama besar perusahaan tempatku bekerja ini. sebuah perusahaan minyak milik pemerintah qatar. Taman-taman dipinggir jalan nampak sejuk dipandang mata. Kuliaht juga beberapa orang kontraktor pertamanan sedang bekerja. Tangan-tangan merekalah yang menjadi kepanjangan Tangan Tuhan sehingga tanaman dan bunga-bunga nampak tumbuh segar. Mereka menyirami tanaman dan bunga-bunga setiap hari.
Aku gak tahu lagi sudah berapa kilometer kulewati. Keringat dibadan sudah membasahi baju kaosku. Dengan sisa-sisa semangat, kuterus kayuh sepedaku menelusuri komplek perumahan perusahaan yang dikhususkan bagi karyawan yang membawa keluarganya. Nampak indah berjejer gedung-gedung bercat krem. Sebuah flat berlantai dua, yang berkapasitas 4 keluarga. 2 flat dlantai satu dan dua lagi dilantai 2.

Sesampai disebuah roundabaout besar, kuambil arah kekiri menuju arah Umm Bab. Kurencanakan menuju sebuah kawasan gudang material perusahaan. Ada sebuah jembatan yang nantinya aku ambil arah balik menuju Dukhan.

Alhamdulillah angin tidak kencang menerpa, sehingga sepeda melaju dengan kencang. Kulihat beberapa orang kontraktor sedang bekerja di konstruksi disamping jalan. Jalan yang kulalui ini merupakan jalan besar yang dinamai Dukhan Hihgway. Jalan ini layaknya jalan tol. Jalan yang bebas hambatan. kalau mau diteruskan sampai ujung jalan ini , maka kita bisa sampai ke perbatasan qatar dan saudi arabia. Daerah tersebut dinamai Abu Samra. Namun jarak kearah sana sekitar 100 kilometer. ya sekedar info saja ya...
Sesampai disamping jembatan, kuhentikan laju sepedaku. Dan kusempatkan beristirahat sejenak. Kubasahai tenggorokan dengan air mineral merk "rayyan". Air mineral produk asli qatar. Segar sekali rasa tenggorokanku dan membasahi seluruh urat nadiku. Mak nyesss...dan kusegarkan juga perutku dengan satu buah pir warna hijau. enak pokoke.Kusempatkan kuambil gambarku sendiri dengan smart phone milikku yang hanya berkapasitas 3.2 megapiksel. It's Ok, bisa mengabadikan sebuah perjalanan di pagi hari di awal musim panas.

Singkat cerita akhirnya kukayuh balik sepedaku menuju arah Dukhan. Dengan terpaan angin yang semakin kencang, kuturunkan lagi gigi sepedaku menjadi sangat minimal. menuju angka 2 diposisi kiri dan angka 5 di posisi kanan tanganku. ya lumayan lah dengan terus berputar kayuh kakiku, sepeda tetap berjalan dengan sangat pelannya.

45 menit berlalu sudah, ketelusuri jalan balik disamping kawasan perumahan karyawan yang berkeluarga. Jalan yang sama seperti pas berangkat tadi, Cuman beda arah saja. kupintasi security gate yang sama, dan alhamdulillah tepat sekira jam 07.50 aku nyampe didepan flat ku. Flat nomor 222. Flat yang berdiri megah diantara flat-flat yang lain.

pagi yang indah, terima kasih Tuhan atas nikmatMu hari ini. Aku masih diberi kesehatan. Aku masih diberi kesempatan menikmati karuniaMu yang begitu besar dan membuatku tak sanggup untuk menghitungnya.

Dukhan, 22-5-2010 Summer Time

21 May 2010

SELAMAT JALAN MAESTRO KERONCONG "GESANG MARTOHARTONO"

Sebuah Legenda Maestro Keroncong DIKUTIP DARI www.tokohindonesia.com

Tak banyak penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa menjadi legenda di masyarakat. Satu dari yang sedikit itu, ialah maestro keroncong asal Solo, Gesang Martohartono, pencipta lagu Bengawan Solo. Sebuah lagu keroncong yang menyeberangi lautan. Lagu yang sangat digemari di Jepang. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Lagu yang telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia.

"


Dan, tak banyak pula dari penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa bertahan hingga usia 85 tahun. Gesang bahkan telah membuktikan bahwa dalam usianya yang ke-85 tahun, masih mampu merekam suaranya. Rekaman bertajuk Keroncong Asli Gesang itu diproduksi PT Gema Nada Pertiwi (GMP) Jakarta, September 2002.

Peluncuran album rekaman itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Gesang ke-85, yang diadakan di Hotel Kusuma Sahid di Solo, Selasa (1/10) malam. Hendarmin Susilo, Presiden Direktur GMP, menyebutkan produksi album rekaman Gesang yang sebagian dibawakan sendiri Gesang, merupakan wujud kecintaan dan penghargaannya pada dedikasi sang maestro terhadap musik keroncong.

Sudah empat kali PT GMP memproduksi album khusus Gesang, yaitu pada 1982, 1988, 1999, dan 2002. Dari 14 lagu dalam rekaman compact disk (CD), enam di antaranya merupakan lagu yang belum pernah direkam. Yaitu Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi (1949), dan Swasana Desa (1939). Selebihnya lagu-lagu lama karya Gesang, yang temanya menyinggung usia Gesang yang sudah senja seperti Sebelum Aku Mati, Pamitan, dan tentu saja Bengawan Solo.

Ini memang lebih sebagai album penghormatan atas sebuah legenda daripada sebuah produk yang tak punya selling point. Dalam album ini suara Gesang agak "tertolong" karena didampingi penyanyi-penyanyi kondang: Sundari Soekotjo, Tuty Tri Sedya, Asti Dewi, Waldjinah.

"Terus terang, suara saya jelek. Apalagi saat rekaman itu saya sedang sakit batuk, sehingga terpaksa diulang-ulang hingga, ya, lebih lumayan," ungkap Gesang polos. Menurut dia, sebenarnya aransemen dan iringan musik oleh Orkes Keroncong Bahana itu dia rasa kurang cocok untuk kondisi vokalnya.

***
SUDAH lima tahun terakhir, perayaan HUT Gesang diadakan di hotel yang sama. Penyelenggaranya gabungan dari anggota keluarga Gesang dan Yayasan Peduli Gesang (YGP) dari Jepang. YGP semula merupakan wadah sejumlah warga Jepang yang memiliki penghormatan khusus pada Gesang, dan mereka menghimpun dana untuk membantu kehidupan Gesang. Sebagian dari mereka adalah orang Jepang yang berusia di atas 80 tahun, karena pada masa perang dahulu sudah mengagumi lagu Bengawan Solo.

Mereka datang berombongan dari Jepang-asal Tokyo, Pulau Shikoku, Yokohama-dan tiba sehari sebelumnya. Setiap tahun anggota rombongan berganti-ganti, dan sebagian anggota tetap. Menurut Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang, Okihara Toshio, sebenarnya banyak warga Jepang yang berniat datang ke Solo, tetapi terbentur teknis untuk mengumpulkan mereka sehingga hanya terkumpul 26 orang.

Bayangkan. Mereka menempuh jarak ribuan kilometer hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Gesang. Selain mesti membeli tiket pesawat terbang pergi-pulang dan mengeluarkan biaya akomodasi, mereka juga membawa cenderamata buat Gesang. Dari amplop berisi uang yen hinga lukisan. Bahkan ada yang sengaja datang ke Solo untuk bisa bernyanyi (bermain piano) bersama Gesang. Ada juga yang menari.
Ketua Yayasan Peduli Gesang, Ny Yokoyama Kazue (55) agak menyayangkan ketidakhadiran sejumlah warga Jepang yang tinggal di Kota Solo, padahal tahun lalu saat perayaan HUT Gesang mereka datang. HUT yang istimewa itu, 85 tahun, hanya dihadiri kurang dari 100 orang.

Ia juga menyayangkan ketidakhadiran kalangan pemusik dan penyanyi keroncong setempat. Padahal panitia dari Jepang telah menyiapkan penghargaan kepada mereka. HUT Gesang malam itu terasa sepi tanpa kehadiran penyanyi Waldjinah, komponis Andjar Any, atau kalangan musik keroncong lainnya. Tak satu pun kalangan pejabat yang hadir, maupun mereka yang selama ini menyebut dirinya menghargai musik Indonesia.

Barangkali ini sebuah ironi tentang sebuah bangsa yang konon sangat mengagungkan kepahlawanan. Ny Yokoyama mengaku, sebenarnya ia hanya melanjutkan usaha mendiang Hirano Widodo, salah seorang warga Jepang (tinggal di Klaten) pengagum Gesang. "Saya sudah telanjur berjanji pada Pak Hirano tatkala beliau dirawat di rumah sakit," tutur Ny Yokoyama. Ia bahkan mengaku, sebelumnya tidak mengenal Gesang.

***
MENYEBUT kekaguman terhadap Gesang sebagai sebuah legenda, rasanya tidak adil tanpa menyebut peran PT Gema Nada Pertiwi yang dipimpin Hendarmin Susilo (57). "Saya termasuk warga keturunan, tetapi saya cinta negeri ini, dan menyukai lagu-lagu daerah di sini seperti gending, degung, lagu-lagu Tapanuli, terutama keroncong," ungkapnya.

Hendarmin mengaku, kecintaannya pada musik keroncong seperti sudah mendarah-daging, dan karena itu ia siap berkorban. Ia juga menghormati Gesang, bahkan telah menganggapnya sebagai "orangtua"-nya.

Kalau bukan berdasar rasa kagum dan penghargaan yang mirip mitos, rasanya memang tak masuk akal sebuah perusahaan rekaman memproduksi album rekaman musik keroncong. "Apalagi di masa sulit sekarang ini," kata Hendarmin. "Memang banyak teman Asiri yang menyebut saya gila."

Ditambahkan, kalau cuma dihitung dengan ilmu dagang, memproduksi album keroncong jelas merugi. Tentang besarnya prosentase pemasaran album musik keroncong, misal dibanding musik pop, Hendarmin bertamsil, "Wah, kita harus menggunakan kaca pembesar untuk bisa melihatnya."
Sebagai gambaran, rekaman Album Emas Gesang (1999) cuma laku 7.000 kaset dan 1.000 CD. Bandingkan dengan album musik pop Indonesia yang, kalau meledak, bisa mencapai 400.000 keping. "Tetapi, dalam hidup ini kan ada harga yang lain. Yakni ketika kita dihargai oleh orang lain, seperti penghargaan orang Jepang terhadap Pak Gesang itu. Macam itu tidak bisa dinilai dengan uang saja," katanya.

Hendarmin juga menyebutkan, sebenarnya bukan hanya kalangan masyarakat Jepang yang mengagumi Gesang. Nama Gesang dengan Bengawan Solo-nya juga cukup dikenal pula di daratan Tiongkok. Dalam kaitan itu ia menyebut jasa Bung Karno yang pada masa lalu sering membawa misi kesenian ke RRC, juga Vietnam, dan negara Asia Tenggara yang lain.

Bengawan Solo
bengawan solo, riwayatmu ini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau, tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh ...

mata airmu dari solo
terkurung gunung seribu
air mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut ...

itu perahu, riwayatmu dulu
kaum pedagang s'lalu naik itu perahu

Keroncong yang Menyeberangi Lautan
Lagu "Bengawan Solo" yang berlanggam keroncong, sangat terkenal di Jepang. Orang Jepang langsung tahu bila kita menyebut "Bengawan Solo", karena sudah sejak lama mereka kenal. Terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut, mendengar lagu ini menimbulkan adanya perasaan nostalgia. Demikianlah, melalui "Bengawan Solo" yang digubah, telah tumbuh pertukaran yang bersejarah antar rakyat Jepang dan Indonesia.

"Bengawan Solo" masuk ke Jepang untuk pertama kali sekitar setengah abad yang lalu di kala masa perang. Pada waktu tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, lagu itulah yang dari radio terdengar secara luas di kalangan serdadu Jepang serta orang-orang Jepang yang berada di sini.

Seusai perang, berkat para tentara Jepang dan orang-orang perusahaan dagang Jepang yang pulang kembali ke negerinya, lagu tersebut kerap terpelihara eksistensinya, bahkan "Bengawan Solo" dengan syair dalam bahasa Jepang menjadi sangat populer. Konon orang orang di Jawa yang mendengar lagu itu merasakan ketenangan hati serta nostalgia, mengingatkan mereka akan masa mudanya karena melodi lagu serupa dengan lagu rakyat Jepang.

Salah pengertian bahwa "Bengawan Solo" merupakan lagu rakyat yang komponisnya tidak dikenal, berlangsung cukup lama. Akan tetapi ada orang-orang Jepang yang berdaya upaya bagi terjalinnya pertukaran antar rakyat biasa dengan Indonesia, mereka mencari melodi-melodi indah dari negeri-negeri lain dan membantu para komponis yang terlupakan.

Setelah mencari dan melacak keberadaan penggubahnya, Gesang pada tahun 1989, dengan dana yang dikumpulkan dari himpunan persahabatan Jepang-Indonesia di berbagai tempat di Jepang, telah dibentuk Dana Himpunan Gesang dengan alasan bahwa "Bengawan Solo bersifat Abadi", bahkan sampai didirikan sebuah monumen patung setengah badan Gesang di Taman Jeruk, Kota Solo.

Gesang datang pada festival salju Sapporo atas undangan himpunan persahabatan Sapporo dengan Indonesia pada tahun 1980, untuk pertama kali. Setelah itu telah berkali-kali datang ke Jepang atas undangan himpunan persahabatan Jepang. Demikianlah pagelaran keroncong berlangsung di Jepang untuk pertama kali dengan membawakan lagu "Bengawan Solo". Melalui Gesang dan musik keroncong, orang menjadi sadar bahwa musik adalah sesuatu yang mutlak perlu bagi persahabatan dan perdamaian dunia. Lebih-lebih lagi, berkat kerendahan hati Pak Gesang; kepribadiannya telah membawa keakraban dan kehangatan bagi orang Jepang. Berkat kunjungannya ke Jepang, keroncong telah mengalami boom secara diam-diam.

Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. "Bengawan Solo" yang melintasi batas negara, dengan memperkayakan hati manusia telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia.

Hari Rabu 20 Mei 2010 sekitar pukul 18.10 WIB Gesang menghembuskan nafas terakhirnya di RS PKU Muhammadiyah Solo.
Selamat Jalan Gesang
Selamat Jalan Maestro Keroncong Indonesia
Semoga semangatmu terus tumbuh dihati penerus generasi keroncong Indonesia..
Semoga amal ibadahmu diterima disisi Alloh SWT, amien